Majalah Digital FPKM Edisi Januari 2010
Assalamualaikum. Wr. Wb. dan Salam Sejahtera selalu,
Alhamdulillah dan puji syukur kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, edisi bulan Januari 2010 majalah digital FPKM akhirnya selesai juga dikerjakan. Dalam edisi kali ini, ditampilkan esai maupun resensi buku yang menarik untuk dibaca. Juga beberapa karya cerpen hasil tulisan para anggota FPKM. Bagi yang berniat unjuk kemahiran menulis dengan menyumbang tulisan untuk bisa tampil di majalah digital ini, silakan Anda mengirim artikel Anda langsung ke milis FPKM atau lebih baik lagi Anda mengirimkannya langsung ke kotak pos elektronik editor majalah ini di haryobagushandoko.penulis@gmail.com Paling tidak, nama kalian akan dengan mudah terdeteksi oleh search engine seperti google dan juga nampang dan dibaca begitu banyak orang, karena majalah ini tidak hanya didownload oleh para pembaca dari Indonesia saja, namun juga para penggemar sastra di seluruh dunia. Dalam edisi ini, majalah digital FPKM mengetengahkan beberapa cerita pendek maupun esai dari teman-teman yang patut untuk disimak. Situs FPKM berganti domain yaitu menggunakan url:
http://www.fpkm.co.cc . Semoga tulisan-tulisan dalam majalah ini dapat memberikan inspirasi dan memunculkan ide kreatif dari teman-teman untuk tetap berkarya. Akhir kata, selamat membaca dan Selamat Tahun Baru 2010. Terus berkarya dan berkreasi di jagat penulisan Indonesia.
Wassalam,
Tim Editor
-----------------------------------------------------
:> Suka menulis ?
Silakan kunjungi blog FPKM yang baru
>> FPKM
http://www.fpkm.co.cc-----------------------------------------------------
Pimpinan Redaksi
Haryo Bagus Handoko
Dewan Redaksi
David Ardy
Haryo Bagus Handoko
Vita Priyambada
Etty Hentihu
Gusti Aisyah Putri
Lutfi Fadila
Wahyu Indah R
Trias Pratiwi
Sismanto
Mukhlis
Carolina Neolen D.F.
Eko Martina Sriwulaningsih
Desain Grafis & Lay Out
Haryo Bagus Handoko
Photo Editor
Haryo Bagus Handoko
Sekretariat Redaksi
Carolina Neolen
Haryo Bagus Handoko
Keuangan
Vita Priyambada
Trias Pratiwi
Penerbit
Forum Penulis Kota Malang (organisasi profesi non-profit)
Alamat Redaksi
Forum Penulis Kota Malang
Gedung Perpustakaan Kota Malang
Jl. Raya Ijen 30 A - Malang 65100
Alamat E-mail
forum_penulis_kota_malang@yahoo.com
forumpenuliskotamalang@gmail.com
Admin website / Webmaster
Haryo Bagus Handoko
haryobagushandoko.penulis@gmail.com
Redaksi menerima sumbangan artikel, naskah dan tulisan, serta informasi penting lainnya. Bisa dikirim lewat e-mail atau langsung datang ke Sekretariat Forum Penulis Kota Malang di Gedung Perpustakaan Kota Malang. Saran, gagasan dan dukungan serta sponsorship dari Anda sangat kami butuhkan.
Kata Sambutan Ketua
Forum Penulis Kota Malang
Assalamualaikum.wr.wb. dan salam sejahtera untuk kita semua,
Sebelum takdir terjadi dan diketahui, hidup ini adalah sebuah pilihan dan pilihannya hanya ada dua yaitu “to be or not to be”, menjadi kalah atau menang, menjadi ada atau tidak ada. Marilah kita bersama-sama menjadi pemenang, menjadi ada bagi orang lain. Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki potensi dalam dunia tulis menulis, tetapi tidak diimbangi dengan adanya wadah yang membantu penulis untuk mengekspresikan karyanya. Berdasarkan realitas di atas, kami merasa perlu untuk membentuk suatu wadah bagi para penulis. Denganwadah tersebut kita bangun jaringan intelektual melalui tulisan. Kita bangun pola pikir-pola pikir yang mendobrak dan tak biasa karena lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik ! Biarlah kita “hidup” selama kita hidup. Rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis.
Dengan adanya publikasi dalam bentuk majalah digital Forum Penulis Kota Malang ini, saya berharap rekan-rekan penulis baik di Malang maupun rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis !
Saran, sumbangan ide, gagasan, serta sumbangan tulisan sangat kami harapkan demi semakin berkembangnya pengetahuan kita akan dunia kepenulisan. Akhir kata saya ucapkan terima kasih atas segala kerjasama yang baik dari rekan-rekan semua dan sukses selalu Forum Penulis Kota Malang !
Salam,
David Ardy
Awal berdirinya Forum Penulis Kota Malang
Forum Penulis Kota Malang (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang. Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang. Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang – Jl. Raya Ijen 30A – Malang, forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini. Saran dan juga sumbangan serta bantuan baik moril maupun materiil sangat kami harapkan.
Susunan Pengurus Organisasi Forum Penulis Kota Malang
Ketua : David Ardy
Sekretaris : Carolina Neolen
Bendahara : Vita Priyambada
Seksi Acara : Liga Alam, Mukhlis, Trias Pratiwi, Eko Martina Sriwulaningsih
Seksi Informasi dan Dokumentasi : Haryo Bagus Handoko, Wahyu Indah R, Wawan Eko Yulianto, Sidik Nugroho, Sismanto
Penelitian dan Pengembangan : Vita Priyambada, Gusti Aisyah Putri, Lutfi Fadila
Pelindung : Bpk. Drs. H. M. Jemianto, SH (Kepala Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang)
Penasehat : Bpk. Johan Budi Sava (Toko buku “TOGAMAS”), Bpk. Bambang A.W. (Pengamat seni)
Visi dan Misi Forum Penulis Kota Malang
Visi
Membentuk insan yang memiliki kesadaran intelektual aktif kreatif berguna dalam masyarakat melalui tulisan
Misi Jangka Pendek
1. Berkarya.
2. Pembentukan tim yang solid, kreatif dan bermanfaat.
3. Membangun jaringan dengan penulis lain, penerbit dan lain-lain yang berhubungan dengan dunia kepenulisan.
4. Memberi motivasi seluruh anggota untuk berkarya.
Misi Jangka Menengah
1. Berkarya.
2. Mengadakan acara-acara bedah buku dengan mengundang penulis-penulis yang telah konsisten dan berkompeten dalam dunia kepenulisan.
3. Memperkuat jaringan penulis dengan penerbit.
4. Membaca wacana-wacana yang berhubungan dengan kesenian, kebudayaan, dan sebagainya yang berhubungan dengan pengembangan dunia kepenulisan.
5. Menghidupkan dunia kepenulisan di Kota Malang.
6. Mendorong seluruh anggota agar dapat menghasilkan karya yang berkualitas dan bersifat membangun.
Misi Jangka Panjang
1. Berkarya.
2. Memperluas jangkauan Forum dan jaringan antara penulis dan penerbit.
3. Menjadikan Forum ini sebagai pendobrak dan melakukan perubahan yang baik dalam dunia kepenulisan Indonesia.
4. Menjadikan Forum ini sebagai tolok ukur perkembangan dunia kepenulisan Indonesia.
5. Mencetak penulis-penulis yang berkualitas dan membangun serta menjadikan penulis sebagai sebuah profesi yang dapat ‘menghidupi’.
Berita Terbaru
Januari 2009
Bulan Januari 2009 ini diwarnai oleh cuaca yang tidak bersahabat. Di Malang, hampir tiada hari tanpa hujan dan mendung. Namun demikian, toh, acara pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang tetap digelar di ruang lobi gedung perpustakaan Malang. Tidak ada kesan formal, suasana berlangsung santai, penuh kekeluargaan. Pada tanggal 11 Januari 2009, pertemuan rutin FPKM membedah cerita pendek yang berjudul “Gayung” karya dari salah satu anggota FPKM yaitu Mas Muchlis yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai seorang pengajar/guru. Cerita pendek berjudul “Gayung” ini cukup unik karena mengupas fenomena sosial anak-anak jalanan yang sering kali kita jumpai meminta-minta di perempatan jalan, di lampu-lampu merah. Mereka sering kali termarjinalkan dan terpinggirkan, belum ada satu pun penyelesaian yang bijaksana yang bisa dilakukan baik oleh lembaga sosial maupun pemerintah khususnya dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan anak-anak jalanan ini. Yang terjadi, mereka seringkali justru kena razia dan dihalau atau bahkan diangkut oleh satpol PP. Kisah cerita pendek yang cukup mengharukan ini cukup mendapat respon yang baik dari teman-teman FPKM. Apresiasi karya tulis seperti ini memang selalu menjadi agenda rutin komunitas ini sejak pertama kali berdiri. Berbagai pendapat dan saran pun bermunculan sehubungan dengan cara bercerita serta setting yang ditampilkan dalam cerpen bertema sosial ini. Yang jelas semua orang merasa senang bahwa kepedulian sosial paling tidak bisa kita cetuskan lewat sebuah karya cerita pendek. Pada tanggal 25 Januari 2009, kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini juga tetap membedah cerita pendek karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul “Ekspedisi”. Sebuah cerita unik mengenai ekspedisi para ilmuwan botani ke tanah Papua yang bertema thriller yang lumayan menegangkan. Kisahnya dikemas secara apik dalam tutur kata dan alur bercerita yang cukup sederhana namun sedikit membutuhkan perenungan dan pemikiran lebih dari para pembacanya. Respon yang didapat dari bedah karya cerita pendek ini cukup apresiatif. Beberapa anggota FPKM yang hadir dalam pertemuan rutin ini satu per satu menyumbangkan saran serta ide demi penyempurnaan kisah dramatis dalam cerita pendek yang satu ini. Walau diakui oleh penulisnya masih banya kekurangan di sana-sini, namun kisah yang satu ini dianggap cukup menarik dan sedikit unik karena lain daripada yang lain. Yang diketengahkan dalam cerita pendek ini adalah fenomena kejadian-kejadian unik yang berbau science fiction. Suatu tema yang sedikit jarang diketengahkan dalam jagat sastra Indonesia. FPKM memang beda...!
Februari 2009
Bulan Februari 2009 sarat acara kegiatan baik yang diselenggarakan oleh FPKM sendiri, maupun yang hasil kerja bareng FPKM dengan komunitas lain. Pendek kata tiada hari tanpa berkarya dan berbagi ilmu, karena itu adalah semboyan FPKM. Pada tanggal 8 Februari 2009, berlangsung pertemuan rutin FPKM di bulan Februari kali ini cukup semarak. Kali ini tema yang dibedah adalah cerpen tulisan Mbak Trias Pratiwi yang berjudul "Mencari Langit". Sebuah cerita pendek yang cukup menarik, walau sedikit tragis dan mengupas kegetiran hidup yang dialami tokoh utama dalam cerita pendek ini. Walau diakui masih banyak kekurangan di sana-sini, namun penulis cerpen ini cukup punya nyali untuk mengangkat fenomena sosial yang sering kali dipandang sebelah mata. Dalam kesempatan ini, teman-teman FPKM banyak memberikan saran dan masukan bagi penyempurnaan kisah cerita pendek ini. Diskusi pun berjalan cukup akrab dengan semangat kekeluargaan dan canda tawa khas FPKM. Tak berselang lama, pada tanggal 15 Februari 2009, FPKM diundang sebagai pembicara dalam acara workshop pelatihan menulis tingkat pelajar SMP/SMA se-kota Malang periode 2009. Acara yang berlangsung di Aula kantor Dinas Pendidikan Kota Malang di Jalan Veteran ini berjalan cukup semarak dan mendapat sambutan positif dari kalangan pelajar yang tergabung dalam kelompok sastra pelajar kota Malang. Perhatian para pelajar kota Malang pada dunia sastra dan kepenulisan terbukti cukup tinggi. Hal ini dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti acara workshop yang diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum ini. Beberapa pembicara yang berasal dari kalangan penulis maupun kolumnis media surat kabar, seperti Mas Ahmad Makki Hasan (kolumnis dan penulis esai surat kabar dan media massa), Liga Alam (novelis, esais dan penulis buku biografi), Mas David Aryanto (penulis, penyair dan ketua FPKM), serta Haryo Bagus Handoko (jurnalis dan penulis buku) turut andil dalam keberhasilan acara ini. Walau berlangsung secara sederhana, acara workshop/pelatihan yang sarat keilmuwan dan aneka tips dan trik praktis memulai karir sebagai penulis serta aneka jurus untuk menulis, sempat diliput oleh berbagai surat kabar di Jawa Timur maupun televisi lokal di kota Malang. Menurut ketua organisasi Kelompok Sastra Pelajar, Mas Liga Alam, acara tahunan workshop seperti ini seharusnya terus digalang agar dapat menumbuhkan bakat menulis di kalangan pelajar kota Malang. Acara workshop gratis ini adalah hasil kerja bareng antara komunitas penulis "Kelompok Sastra Pelajar", "Forum Penulis Kota Malang" dan Dinas Pendidikan Kota Malang. Semoga untuk ke depannya, acara yang sarat keilmuwan ini terus dapat diselenggarakan.
Maret 2009
Bulan Maret 2009 ini cukup padat dengan kegiatan berbau sastra. Dimulai pada hari Minggu, 1 Maret 2009 yang bertepatan dengan jadwal pertemuan rutin FPKM, agenda pertemuan kali ini adalah acara pembacaan puisi dan bedah puisi yang diselenggarakan secara outdoor (di luar ruangan). Tempat pertemuan kali ini adalah berlangsung di tengah taman bunga dan air mancur yang berada di depan museum Brawijaya - di Jalan Raya Ijen. Pembicara acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang mengetengahkan puluhan puisi-puisinya untuk dibacakan bergantian dan dibedah serta dibahas beramai-ramai. Antusiasme para anggota dan pengurus FPKM cukup tinggi dalam hubungannya dengan dunia sastra, kepenulisan dan puisi. Tak heran, walau diselingi gelak tawa dan senda gurau, acara pembacaan puisi secara bergantian ini berlangsung cukup semarak. Mbak Vita yang rajin menulis aneka artikel untuk berbagai media massa ini, ternyata juga jago menulis puisi dan membacakan puisi. Walau beberapa kosa kata yang digunakan tergolong aneh karena merupakan bahasa-bahasa kamus, namun acara seperti ini justru dapat menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia bagi teman-teman FPKM. Dalam acara pertemuan ini dicetuskan ide untuk memunculkan catatan dan kliping sastra dalam arti sebenarnya yang dikenal dengan istilah "Majalah TengTop - Ditenteng terus makin ngeTop". Memang rencananya, kliping aneka tulisan dan corat-coret teman-teman FPKM setiap kali pertemuan akan menjadi sebuah bank data sastra Malangan yang harus dibawa setiap ada pertemuan FPKM. Selain setiap anggota dan pengurus bisa berkreasi dan berimajinasi secara bebas dalam menuliskan setiap ide dan kreativitasnya, keberadaan kliping sastra "Majalah TengTop" ini bakal menjadi daya tarik tersendiri bagi eksistensi komunitas penulis FPKM. Model serupa telah berjalan cukup baik di dunia maya dengan keberadaan blog "
http://klipingfpkm.multiply.com". Selanjutnya, pada hari Minggu, 15 Maret 2009, pertemuan rutin dua mingguan FPKM kembali digelar. Kali ini tetap dengan tema membedah cerpen karya para anggotanya. Yang kebagian jadi pemateri minggu ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang mengetengahkan cerpen tulisannya yang berjudul "Kereta Yang Membawaku Kembali" sebuah cerita pendek dengan model bercerita layaknya catatan perjalanan sekaligus memoar yang memunculkan isyu jender dan emansipasi wanita. Cerita pendek ini cukup mendapatkan tanggapan, apresiasi sekaligus kritik dan saran dari para peserta diskusi yang hadir saat itu. Seperti biasanya, acara diskusi ini berlangsung secara santai dan penuh kekeluargaan dengan diselingi guyonan di sela pembahasan dan apresiasi terhadap tulisan cerpen yang sedang dibahas. Sebagai penutup acara, segenap anggota dan pengurus FPKM kembali menuliskan coretan-coretan pada lembaran-lembaran kertas yang akan menjadi halaman bersejarah dari pemunculan ide majalah tengtop yang pernah dibahas sebelumnya. Berbagai tulisan mulai dari puisi, celoteh, sajak hingga narasi pendek tentang suasana hati masing-masing kemudian dibacakan dan banyak menimbulkan gelak tawa serta komentar-komentar dari sesama anggota yang saat itu hadir. Bagaimanapun ide menuliskan suasana hati untuk mengisi halaman-halaman majalah tengtop (baca: diary FPKM) cukup mengena dan dapat menghidupkan suasana serta meningkatkan keakraban dan silaturahmi sesama anggota. Akhirnya, acara pertemuan rutin FPKM di minggu terakhir di bulan Maret ini pun kembali berlangsung cukup istimewa, karena bertepatan dengan hari ulang tahun si pemateri, yaitu ulang tahunnya Mbak Wulan (Martina Sriwulaningsih) yang jatuh pada hari Minggu, 29 Maret 2009. Tak heran, acara belum dimulai, semua makanan camilan sudah digelar layaknya bazaar makanan. Para anggota dan pengurus FPKM yang hadir saat itu beramai-ramai mengucapkan selamat ulang tahun pada si pemateri yang hari itu sedang berulang tahun. Sambil menunggu yang lain datang, acara makan camilan pun dimulai sambil mengobrol akrab sesama anggota. Di saat sedang asyik mengobrol, muncullah Mbak Etty Hentihu, salah satu anggota lama FPKM yang kebetulan sedang mudik ke kota Malang. Karena profesinya sebagai seorang pengajar yang kini bekerja di kota lain, Mbak Etty, hanya bisa aktif bersilaturahmi di dunia maya. Maklum saja karena cukup lama tidak bertemu, karena selama ini hanya bisa saling menyapa lewat facebook, maka secara spontan, teman-teman merasa sangat surprise, dan obrolan pun berlangsung lebih meriah dengan Mbak yang satu ini. Setelah semua anggota dan pengurus FPKM telah hadir, maka acara bedah cerpennya Mbak Wulan dimulai. Kali ini cerpen yang dibahas bertajuk "Ku-pu-ku-pu-ku (Aku punya, aku punya aku), sebuah cerpen unik dengan genre psikologi dan perangkaian kata serta kalimat yang tidak biasa. Cerpen ini mendapat tanggapan dan kritik serta apreasiasi yang bermacam-macam dari para anggota FPKM. Berbagai penafsiran yang berbeda dalam mengartikan nilai rasa dalam cerpen ini telah membuat suasana diskusi lebih hidup. Akhirnya, untuk menyamakan persepsi dari pembaca, si penulis cerpen ini pun urun bicara dan menjelaskan maksud serta jalan cerita dari cerpen ini. Memang daya imajinasi antara penulis dan pembaca seringkali berbeda, dan itulah keunikan yang muncul dari cerpen yang satu ini, karena bisa memunculkan berbagai pendapat dan tanggapan yang berbeda dari para pembacanya. Akhir-akhir ini para anggota maupun pengurus FPKM semakin giat dalam menghasilkan karya tulisan yang dimuat di berbagai media cetak tanah air, baik cerpen, resensi buku, esai hingga terbitnya buku tulisan mereka.
April 2009
Kegiatan di bulan April ini diawali dengan acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu pada hari Jumat siang (sehabis sholat Jumat), 3 April 2009. Acara seminar gratis yang cukup spektakuler ini mengangkat tema tentang bagaimana memunculkan inisiatif menulis dan membentuk corak dan gaya tulisan kita - "FINDING SHAPES OF OUR STORIES". Sebagai pembicara dalam acara ini adalah Professor Valerie Miner, seorang penulis, jurnalis, novelis sekaligus dosen sastra di Stanford University, Amerika Serikat. Jauh-jauh datang dari Amerika untuk berbagi cerita dan berbagi pengalaman seputar kegiatan menulis dan mencari ide-ide segar kepenulisan, Ibu Valerie Miner banyak berbicara mengenai pengalamannya seputar kegiatan menulis dan jurnalisme yang telah dilakoninya selama puluhan tahun. Acara tanya jawab pun berlangsung semarak dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Beberapa penanya aktif mengutarakan pertanyaan dan pendapat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Dengan ditemani oleh Pak John, staf konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya dan juga seorang penerjemah, acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu hasil kerja sama antara Perpustakaan Kota Malang, Forum Penulis Kota Malang, Komunitas Sastra Pelajar, Malang Fun English Club dan kantor konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya ini pun berjalan cukup sukses. Acara ini sempat diliput oleh beberapa saluran televisi lokal di kota Malang, serta berbagai media surat kabar dan majalah. Di akhir acara, Ibu Valerie Miner dan Pak John dari kantor konsulat jendral Amerika di Surabaya, menyerahkan sumbangan puluhan buku sastra, novel, jurnal sastra Amerika dan berbagai buku seputar sastra dan pengetahuan kepada pihak Perpustakaan Kota Malang, yang diwakili secara simbolis oleh Bpk. Drs. H.M. Jemianto, S.H. Dalam acara ini, tampaknya Ibu Valerie Miner berusaha menumbuhkan dan memotivasi semangat menulis dan membaca dari para penulis kota Malang agar senantiasa aktif dalam menghasilkan karya-karya tulisan yang berbobot dan berguna bagi masyarakat. Acara seminar ini berlangsung sangat semarak dan dipadati begitu banyak pengunjung, terutama para penulis, wartawan media, seniman, pengamat sastra, dan juga para seniman film indie di kota Malang. Berselang kurang lebih seminggu, Forum Penulis Kota Malang kembali mengadakan acara pertemuan rutin yang jatuh pada hari Minggu, 12 April 2009. Pertemuan kali ini menghadirkan pembicara dari anggota FPKM sendiri yang juga seorang pengamat sastra, pecinta buku dan penulis resensi buku - Mas Sidik Nugroho. Karya tulisan yang dibedah dan sempat dibahas bersama pada kesempatan tersebut adalah tulisan Mas Sidik yang dimuat di rubrik Ruang Baca di Koran Tempo, 29 Maret 2009, dengan judul "SEGERA MEMULAI, LALU MENATA". Tulisan tersebut merupakan sebuah esai singkat berisikan motivasi untuk segera memulai menulis apa saja yang terlintas dalam benak kita, dan baru menata ulang tulisan kita setelah semua ide tersebut dituliskan. Mas Sidik juga membahas berbagai cara dan metode menulis yang biasa dilakukan oleh para penulis besar seperti Nadine Gordimer (peraih nobel sastra), John Steinbeck (peraih penghargaan Pulitzer), Stephen King (penulis novel-novel horor), Kate Di Camillo (peraih penghargaan Newbery Medal untuk bukunya yang berjudul The Tale of Desperaux), Leo Tolstoy (penulis novel Anna Karenina), Harper Lee (peraih penghargaan Pulitzer untuk bukunya yang berjudul To Kill a Mockingbird), hingga penulis nasional, Akmal Nasery Basral (penulis novel dan jurnalis). Setiap penulis mempunyai kebiasaan dan cara menulis serta pemilihan waktu yang dianggap paling tepat untuk mulai berkarya. Hendaknya metode dan cara mereka dapat dijadikan contoh dan disesuaikan dengan kebiasaan menulis yang menurut kita paling nyaman. Acara diskusi ini pun berlangsung semarak dan penuh pertanyaan seputar kiat dan trik untuk menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas. Acara baru diakhiri menjelang sore hari setelah semua peserta diskusi merasa puas dengan jawaban yang diterima. Dua minggu kemudian, yaitu tepatnya pada hari Minggu, 26 April 2009, Forum Penulis Kota Malang kembali menggelar acara pertemuan rutin dua mingguannya. Kali ini bertindak sebagai pemateri adalah Mbak Vita Priyambada, seorang penulis dan kolumnis untuk berbagai media surat kabar dan majalah yang ternyata juga pandai menulis puisi. Acara pun berlangsung meriah, dengan lesehan di rumput, tepat di depan museum Brawijaya. Kebetulan saat itu matahari bersinar cerah dan langit kota Malang tampak begitu biru dan indah. Suasana lesehan di halaman depan museum Brawijaya yang berumput hijau memang sengaja dipilih agar terasa lebih menyatu dengan alam dan suasananya lebih mengena. Mbak Vita pun membacakan beberapa karya puisinya yang mendapat tanggapan dari para peserta diskusi. Seperti biasa, acara tanya jawab, kritik, dan guyonan santai pun terlontar saat acara pertemuan FPKM kali ini. Acara baru berakhir menjelang sore hari, setelah seluruh peserta mengisi lembaran-lembaran halaman majalah Tengtop (Ditenteng Makin Ngetop) dengan esai seputar ide dan pengalaman menulis.
Mei 2009
Bulan Mei ini diawali dengan kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah Retnowati, karena sinetron FTV karya terbarunya yang berjudul "Cinta Monyet Ala Kingkong" berhasil tayang di SCTV pada awal bulan Mei 2009. Sinetron ini adalah sinetron ketiganya yang diusung oleh rumah produksi Frameritz yang ditayangkan di SCTV. Teman-teman FPKM pun ramai-ramai memberikan selamat dan dukungan kepada Mbak Wahyu Indah yang senantiasa produktif dalam menghasilkan naskah-naskah skenario untuk sinetron FTV di SCTV. Di bulan Mei ini, kegiatan pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang pun kembali digelar seperti biasa, pada hari Minggu, 10 Mei 2009. Bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang, pertemuan FPKM kali ini mengangkat topik bedah cerpen karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul Rona Kehidupan. Cerpen bertema humanisme sosial ini menyoroti kehidupan kaum miskin pinggiran yang hanya bisa bermimpi untuk mengenyam kehidupan yang layak. Cerpen ini mengungkap betapa masih begitu banyak masyarakat di luar sana yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Diskusi dan tanya jawab seputar isi cerpen dan proses kreatif penulisan cerpen ini pun cukup semarak. Seperti biasa acara diakhiri dengan sharing aneka informasi peluang kepenulisan di antara sesama anggota dan pengurus FPKM. Pada tanggal 19 Mei 2009, Mbak Wahyu Indah kembali membawa kabar gembira sehubungan dengan sinetron keempatnya yang tayang di SCTV. Masih dengan dukungan rumah produksi Frameritz, sinetron FTV berjudul "Ramuan Cinta yang Bikin Pusing" berhasil tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV khas karya Mbak Wahyu Indah senantiasa mengusung kisah-kisah unik dengan sisipan humor segar nan jenaka. Sambutan dan dukungan dari teman-teman FPKM kembali disampaikan pada Mbak Wahyu Indah atas kreativitasnya dalam berkarya. Tak berapa lama berselang, pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini sebagai pembicara adalah Rio Al Imran (Trio), seorang mahasiswa sekaligus penulis yang membawakan cerpen tulisannya yang berjudul Surat. Cerpen ini cukup unik karena menggunakan diksi yang tidak biasa, serta dengan gaya bercerita layaknya buku harian (diary). Karena cukup unik, maka diskusi pun berlangsung cukup seru. Mas Trio pun berbagi cerita seputar proses kreatif penulisan cerpen yang satu ini. Kritik dan saran pun terlontar dari para peserta diskusi. Pertemuan rutin ini baru diakhiri sore hari setelah diakhiri dengan sharing aneka informasi tips dan tutorial menulis serta berbagai peluang kepenulisan di antara para anggota dan pengurus FPKM. Pada tanggal 21 – 24 Mei 2009, kota Malang kembali disemarakkan oleh Festival Malang Kembali yang merupakan festival seni budaya tempo dulu kota Malang. Berbagai atraksi budaya, sendra tari, festival musik tempo dulu, hingga berbagai konser musik pun digelar dalam memeriahkan acara ini. Festival pasar rakyat dan makanan tradisional serta jajanan khas tempo dulu ala Malang pun dijajakan berderet dalam kios-kios dan stand pameran. Aneka kios pun menjual berbagai cinderamata dan juga mainan anak-anak khas tempo dulu, aneka permen dan gulali tempo dulu, serta aneka jenis kerajinan tangan dan obral busana berbahan batik. Tak lupa digelar pula festival wisata kuliner Malang khas tempo dulu yang menggelar berbagai macam makanan dan jajanan khas Malang tempo dulu, baik yang tradisional, kontemporer hingga yang “east meet west”. Bahkan ada juga kios dan stand buku yang mengobral aneka buku jaman baheula dengan harga cukup terjangkau. Para anggota dan pengurus FPKM pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berbelanja buku dan mencicipi aneka kue dan makanan khas Malang tempo dulu yang dijual dalam festival khas rakyat ini. Bertempat di sepanjang Jalan Raya Ijen, kota Malang, acara festival Malang Tempo Doeloe dipadati oleh ribuan pengunjung yang terus mengalir mulai dari pagi hari hingga malam hari. Tentu saja, dengan mengenakan beragam kostum unik khas tempo dulu, maka ajang festival ini tak ubahnya seperti pesta kostum di hari Helloween atau Valentine, bedanya, para pengunjung yang hadir di sini mengenakan beragam busana tradisional maupun pakaian-pakaian jaman kolonial tempo dulu. Selang beberapa hari setelah berakhirnya festival Malang Tempo Doeloe, pada tanggal 29 Mei 2009, Forum Penulis Kota Malang dengan bekerja sama dengan Perpustakaan Kota Malang, toko buku Toga Mas, Penerbit Kanisius dan radio Mas FM kembali menggelar acara pameran buku Malang Membaca 2009. Bertempat di halaman gedung Perpustakaan Kota Malang, acara pameran dan obral buku ini berlangsung semarak. Dalam sehari pengunjung pameran bisa mencapai lebih dari 1500 pengunjung, karena pameran dibuka sejak pagi hingga malam hari. Untuk memeriahkan acara pameran, digelar pula beberapa event launching buku dan bedah buku, seperti peluncuran buku "Simply Amazing - inspirasi menyentuh bergelimang makna" karya J. Sumardianta pada tanggal 31 Mei 2009, dan juga peluncuran buku berjudul "Negeri Kong Draman - Cerita-Cerita Puisi Kampung Halaman untuk Indonesia" bersama pembicara Ahmad Fikri dan Nanang Suryadi pada hari yang sama. Seperti biasa, acara pameran buku ini pun juga dimeriahkan oleh obral buku super diskon yang diselenggarakan oleh Yusuf Agency yang menawarkan buku-buku bermutu dengan harga sangat miring di bawah harga pasar.
Juni 2009
Bulan Juni 2009 diawali dengan acara pertemuan rutin FPKM yang kali ini diselenggarakan pada minggu pertama bulan ini, yaitu pada hari Minggu siang, tanggal 7 Juni 2009. Acara pertemuan ini berlangsung santai secara lesehan di halaman depan museum Brawijaya Malang yang berumput hijau. Di bawah teduhnya pohon palem, maka acara pertemuan ini pun berlangsung penuh kekeluargaan dengan disemarakkan oleh berbagai camilan dan kudapan. Pembicara dalam acara kali ini adalah Mas Kukuh Widyatmoko, seorang guru pengajar di sebuah sekolah menengah di Malang yang juga anggota FPKM. Materi yang dibawakan cukup menarik, yaitu "Kekerasan di Sekolah - Sebuah Anti Tesis Sistem Pendidikan." Ungkapan rasa keprihatinan akan maraknya tingkat kekerasan yang muncul di dunia pendidikan yang dilakukan oleh kalangan pelajar maupun yang dilakukan oleh pendidik telah menginspirasi Pak Guru yang satu ini untuk menuangkannya dalam sebuah esai yang lebih merupakan tinjauan akademis, psikologi dan juga tinjauan sosial yang patut mendapat sorotan dan perhatian lebih dalam coreng morengnya dunia pendidikan di tanah air. Esai yang menarik ini bisa menjadi kaca benggala bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada agar hasil yang dicapai tidak hanya dilihat dari aspek intelejensia (kecerdasan) tetapi juga menyangkut keseimbangan dan kesehatan mental, akal pikiran dan kecerdasan emosi, sehingga berbagai masalah yang ada tidak dilampiaskan dalam bentuk tindak kekerasan yang sama sekali bertolak belakang dengan dunia pendidikan. Tampaknya itulah yang ingin disampaikan dalam esai singkat bertema dunia pendidikan yang dibahas kali ini. Berselang dua hari sejak pertemuan FPKM pada hari Minggu, komunitas ini kembali disemarakkan oleh kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah yang berhasil melaunching karya sinetron FTV terbarunya yang berhasil tayang di SCTV pada tanggal 8 Juni 2009, Pkl. 23.00 WIB. Sinetron FTV bertajuk "Di Hatiku Ada Emakmu" ini berhasil tayang berkat dukungan dari rumah produksi Frameritz - Jakarta. Sebagai seorang penulis buku religi, penulis novel dan juga penulis skenario sinetron, Mbak Wahyu Indah yang juga merupakan salah satu pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang ini memang sudah beberapa waktu bekerja pada rumah produksi sinetron Frameritz. Bolak balik Malang - Jakarta demi beraktivitas di dunia sastra dan kepenulisan, Mbak yang satu ini cukup produktif dengan berbagai karya sinetronnya. Di Bulan Mei 2009 saja, sudah tercatat 3 buah sinetron FTV karyanya yang tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV karyanya lebih banyak bercerita mengenai dunia remaja, dengan gaya bahasa yang ringan, alur cerita yang menarik serta dialog-dialognya yang jenaka sehingga cukup menarik untuk ditonton. Mbak Wahyu Indah yang gemar makan roti bakar khas Malang ini, rencananya juga akan melaunching sinetron FTV terbarunya yang berjudul "Roti Bakarku Sayang" yang juga akan segera tayang di SCTV. Makanya rajin-rajin mampir ke mailing listnya FPKM, facebooknya FPKM dan juga ke facebooknya Mbak Wahyu Indah, supaya bisa tahu sinetron apa saja yang akan segera tayang, buah karya Mbak yang satu ini. Pada hari Minggu, 28 Juni 2009, kembali FPKM mengadakan pertemuan rutinnya, kali ini tampil sebagai pembicara adalah Mas Jemmy Sugianto, anggota baru FPKM yang juga adalah seorang penulis, sekaligus seorang trainer. Ia aktif memberikan bimbingan belajar (les privat) kepada para pelajar di berbagai sekolah di kota Malang, selain aktif juga mengurus buletin cetak "Obor Media" yang dibagikannya secara gratis ke berbagai sekolah, perpustakaan, maupun majalah-majalah dinding yang tersebar di kota Malang. Obor Media sendiri adalah koran dinding yang diterbitkan dan diedarkan secara cuma-cuma oleh Komunitas Anak Panah, salah satu komunitas penulis yang juga bekerja sama dengan FPKM dalam membangkitkan minat baca tulis bagi generasi muda di kota Malang. Pada kesempatan kali ini, Mas Jemmy membahas tulisannya yang ada di buletin "Obor Media" yaitu sebuah esai yang berjudul "Tidak Perlu Diketahui". Dalam esai yang menarik ini, dimunculkan sebuah motivasi dan juga pelajaran moral yang menarik, yaitu bahwa sebagai seorang pekerja kreatif, kita tidak perlu pamer akan apa saja karya yang sudah kita hasilkan, yang penting terus berkarya, terus berkreasi dan tidak lupa selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala limpahan karunia, rejeki dan ide-ide kreatif yang melintas di kepala kita. Biarlah dunia yang menilai akan apa saja yang sudah kita hasilkan. Kita tidak membutuhkan kata-kata sanjungan, pujian atau apa pun. Biarlah apa yang kita hasilkan supaya bisa bermanfaat bagi orang lain. Kalau ada kelebihan ilmu, jangan terlalu pelit untuk berbagi, bila ada kelebihan rejeki, ingatlah selalu pada orang lain sesuai kemampuan kita, maka Tuhan pasti akan memudahkan segala langkah dan upaya kita demi meraih kesuksesan yang lebih besar. Bila menolong orang lain dan memudahkan jalan bagi orang lain, maka Tuhan akan semakin memudahkan jalan kita untuk meraih apa yang kita inginkan. Itulah pelajaran moral yang dapat dipetik dalam tulisan esai singkat yang dicetuskan oleh Mas Jemmy Sugianto. Ya, memang. Ilmu memang ada untuk dibagi-bagi, agar setiap orang bisa memperoleh manfaat, jadi sebaiknya ilmu tidak dipendam saja untuk diri sendiri namun disebarluaskan untuk masyarakat luas sehingga akan lebih bermanfaat - sejalan dengan misi dan visi FPKM dalam mencerdaskan bangsa melalui tulisan!
Juli 2009
Bulan Juli 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 12 Juli 2009. Kali ini pemateri pertemuan adalah Mbak Trias Pratiwi yang memunculkan suatu permainan untuk memotivasi ide kreatif menulis dan merangsang imajinasi para anggota FPKM untuk menuliskan sebuah esai maupun tulisan singkat setelah ditunjukkan sebuah gambar pemandangan. Para peserta diberi waktu sekitar 15 menit untuk menuliskan serta menceritakan apa yang dilihatnya. Kemudian masing-masing tulisan peserta dibacakan dan didiskusikan. Ternyata persepsi dan cara pandang masing-masing anggota FPKM bisa berbeda dengan gaya cerita yang unik, walau yang dilihat dan diamati adalah gambar foto pemandangan yang sama. Jadi intinya, setiap pribadi adalah unik, dan setiap penulis adalah unik, dengan ciri khas dan gaya bahasa serta cara bercerita yang bisa berbeda antara satu sama lain dalam menceritakan suatu kejadian atau suatu obyek yang sama. Ketrampilan berolah kata dan berimajinasi itulah yang merupakan sebuah harta karun yang patut terus digali dalam menghasilkan penulis-penulis berbakat asal kota Malang. Acara pertemuan baru diakhiri menjelang sore hari setelah berdiskusi panjang lebar seputar dunia tulis menulis dan juga berbagai tips dan trik seputar menulis. Pada tanggal 26 Juli 2009, pertemuan rutin FPKM kembali digelar. Kali ini sebagai pemateri adalah Haryo Bagus Handoko, yang membeberkan panjang lebar tentang berbagai tips menulis, serta berbagai informasi seputar dunia kepenulisan mulai dari media surat kabar, majalah hingga peluang menerbitkan buku baik secara indie maupun melalui kerjasama dengan berbagai penerbit buku ternama di Indonesia. Acara ini mendapat respon yang cukup baik dari para peserta yang hadir. Pendek kata, banyak anggota FPKM yang kemudian semakin termotivasi untuk menghasilkan karya dan eksis di jagat tulis menulis nusantara. Bahkan beberapa diantaranya sudah mengambil ancang-ancang hendak menulis berbagai tema untuk kemudian diajukan kepada para editor penerbit buku ternama di Indonesia. Yang penting semangat! Dan sebagian besar anggota FPKM mempunyai semangat besar dalam menghasilkan tulisan, kemauan keras ala arek Malang dan juga semangat pantang menyerah! Pendek kata, arek Malang tidak boleh kalah dengan arek-arek Jogja maupun arek Jakarta dalam jagat tulis menulis. Harus semakin banyak lagi para penulis yang berasal dari kota Malang yang akan mewarnai jagat tulis menulis tanah air. Tak berselang berapa lama dari kegiatan motivasi menulis ini, salah satu cerpen anggota FPKM, yaitu Mbak Lutfi Fadila, yang berjudul “The Hunter”, berhasil dimuat di media The Jakarta Post, salah satu media cetak yang cukup ternama di tanah air. Tidak tanggung-tanggung, cerpen berbahasa Inggris yang dikirimkan ke editor The Jakarta Post telah berhasil dimuat di media tersebut dan ditayangkan pula di situs internet/website mereka. Salut buat Mbak Lutfi Fadila yang jago berbahasa Inggris ini. Terus semangat buat para anggota FPKM yang lain, agar segera menyusul mengukir prestasi di jagat menulis tanah air, seperti misalnya Mbak Wahyu Indah yang secara kontinyu menghasilkan karya-karya sinetron FTV yang tayang di SCTV serta novelnya yang diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Ike Puspita Sari yang novel-novelnya diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Etty Hentihu yang novelnya diterbitkan oleh Penerbit PuspaSwara, Mas Sidik Nugroho dan Mas Arie Saptaji yang kumpulan cerpennya berhasil diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dan juga Mas Haryo Bagus Handoko yang bakal segera merilis buku non fiksi keempatnya, yang juga diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang juga menjadi salah satu kontributor untuk Healthy Life Magazine, Majalah Noor, dan Majalah Clara. Semangat menulis harus terus ditumbuhkan dan dibumbui dengan berbagai keterampilan serta ide kreatif agar tulisan kita senantiasa menarik untuk dibaca, serta bisa dijadikan sebagai sebuah profesi yang tidak boleh dipandang remeh. Berkat bakat tulis menulis ini pulalah, salah satu anggota FPKM, Mas Wawan Eko Yulianto, memperoleh beasiswa Fullbright oleh Pemerintah Amerika Serikat dan saat ini sedang menuntut ilmu gelar S2 di Arkansas, Amerika Serikat, serta Mas Yusli yang seorang dosen memperoleh beasiswa S2 di Universitas Oxford Inggris mendalami bidangnya dalam hal ilmu hubungan internasional. Jadi, ternyata arek Malang tidak kalah dengan arek-arek Jogja ataupun arek Jakarta dalam hal keilmuwan, tulis-menulis dan intelektual!
Agustus 2009
Bulan Agustus 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 9 Agustus 2009. Pembicara dalam acara pertemuan rutin ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang membawakan cerita pendeknya berjudul “Sang Pemburu”. Versi bahasa Inggris dari cerita pendek ini berjudul “The Hunter” yang berhasil dimuat di media “The Jakarta Post”. Namun dalam pertemuan tersebut yang dibahas adalah cerpen versi bahasa Indonesianya yang berjudul “Sang Pemburu”. Cerita pendek ini bercerita tentang kisah malang seorang gadis lulusan universitas yang karena keputusasaannya berniat berburu nasib yang lebih baik dengan menjadi seorang TKW di Malaysia. Namun sialnya ia justru ditipu mentah-mentah oleh perusahaan jasa PJTKI fiktif. Karena frustasi, maka si gadis dalam cerita ini pun akhirnya memilih menikah saja dengan pria yang ia cintai, walau pun ia hanyalah berstatus sebagai istri simpanan. Cerita pendek yang ditulis oleh Mbak Lutfi Fadila ini mencoba mengupas kenyataan pahit dan realitas yang banyak dialami oleh kaum wanita Indonesia yang karena ambisinya untuk mengejar dan memburu mimpi dan nasib yang lebih baik, malah justru berakhir dengan kenyataan pahit. Diskusi mengenai cerpen ini pun berlangsung seru. Para anggota dan pengurus FPKM pun menyoroti dan mengupas cerpen ini dari berbagai aspek. Mulai dari aspek emansipasi wanita dan kesetaraan jender, sempitnya peluang kerja, masalah maraknya outsourcing hingga aspek sosial kemasyarakatan lainnya. Salah satu pengurus FPKM, Mas Yusli yang baru saja pulang dari Inggris menyelesaikan studi S2 di Universitas Exeter juga turut antusias menyoroti kasus cerpen ini dari sudut pandangnya sebagai dosen pengajar hubungan internasional. Wah seru deh pokoknya. Analisisnya sampai ke mana-mana. Diskusi cerpen, jadi mirip debat terbuka dan analisis ilmiah masalah sosial, karena hadir juga di sini salah satu pengurus FPKM yang juga adalah guru pengajar ilmu sosiologi, yaitu Mas Kukuh Widyatmoko. Pokoknya cerpen ini dikupas dari berbagai segi. Benar-benar asyik. Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2009, pertemuan FPKM kembali diadakan. Kali ini yang dibahas adalah masalah peluang menulis dan juga diskusi seputar berbagai event lomba menulis yang diinformasikan kepada para anggota FPKM. Informasinya sendiri berasal dari internet, dan seperti biasa, teman-teman pun saling bertukar informasi mengenai hal ini, serta berbagai informasi lainnya mengenai dunia tulis menulis dan jurnalistik. Pertemuan kali ini jauh lebih santai dengan materi ringan karena bertepatan dengan permulaan bulan puasa.
September 2009
Bulan September 2009 yang masuk bulan puasa Romadlon, tidak banyak kegiatan yang dilakukan. Teman-teman FPKM lebih banyak berkonsentrasi untuk menulis karya-karya artikel maupun naskah buku di rumah, ketimbang beraktivitas di luar rumah. Sebagian besar bahkan ada yang sejak awal bulan berlibur ke luar kota mengunjungi sanak saudara, takut tidak kebagian tiket perjalanan bila bepergian dekat dengan hari raya Idul Fitri. Namun demikian pertemuan rutin FPKM tetap digelar, walau sekedar merupakan obrolan santai sesama teman. Maklum saja, energi dan stamina tubuh di bulan puasa agak sedikit menurun dan kita harus pandai-pandai berhemat tenaga. Tapi toh, pertemuan rutin FPKM tetap tidak kehilangan makna dan semangat kekeluargaan. Pertemuan rutin yang digelar pada tanggal 6 September 2009 berlangsung seperti biasa dengan materi seputar dunia kepenulisan dan informasi terkini mengenai peluang-peluang menulis. Walau sedikit yang bisa hadir dalam pertemuan kali ini (karena banyak yang berlibur ke luar kota, dan sebagian lagi sedang asyik dengan proyek penulisan buku dan artikel), namun teman-teman yang datang saat itu tetap semangat dalam berkiprah di dunia tulis menulis dan jurnalisme. Walau dalam kondisi bulan puasa, namun suasana perpustakaan kota Malang tetap ramai dan hiruk pikuk seperti biasa. Tampaknya semangat membaca dan menulis masyarakat kota Malang tidak pernah surut walau di bulan puasa sekali pun. Sebagian teman FPKM bahkan ada yang ikut berbagai lomba dan kompetisi tingkat nasional, mulai dari lomba blog hingga lomba menulis cerita bersambung. Teman-teman FPKM pun mulai sibuk mengumpulkan berbagai materi pendukung baik melalui riset hingga studi pustaka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibuat sebagai materi penulisan blog maupun dalam kompetisi menulis cerita bersambung yang pengumumannya mereka temukan tersebar di internet. Lumayan, untuk ngabuburit mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka puasa. Waktu menulis jadi lebih banyak selama di bulan puasa ini. Jadi bukannya semakin malas, teman-teman malah semakin produktif dalam berkarya. Hitung-hitung, lebih baik menulis untuk melupakan rasa lapar daripada tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Sebagian dari teman-teman FPKM juga mulai mengupdate blog mereka dan menulis berbagai artikel untuk mengisi majalah digital FPKM. Sebagian yang lain memang telah terjadwal untuk menulis mengejar tenggat waktu penulisan artikel yang bakal dimuat di berbagai media majalah dan surat kabar. Namanya juga penulis, maka menulis adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Benar, nggak?
Oktober 2009
Bulan Oktober 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM sekaligus acara halal bihalal yang diselenggarakan pada tanggal 11 Oktober 2009. Dalam pertemuan rutin kali ini dibahas tentang seluk beluk dunia kepenulisan, berbagai tips dan informasi seputar peluang menulis dan banyak lagi sharing pengalaman sesama anggota dan pengurus komunitas ini dalam hal tulis menulis dan jurnalisme. Sebagai pemateri dalam acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang berbagi ilmu seputar trik menulis artikel dan mencari peluang menulis. Sebagai seorang penulis harus ulet dan gigih dalam mencari peluang agar karya-karya tulisan kita bisa diterbitkan baik di berbagai media surat kabar atau pun majalah dan bahkan bisa jadi diterbitkan menjadi sebuah buku oleh penerbit buku. Jaringan dan networking seorang penulis harus kuat, harus mempunyai banyak kenalan dan relasi, khususnya menjalin silaturahmi yang baik dengan para editor media sehingga tahu lebih banyak corak tulisan yang bagaimana yang diinginkan oleh suatu media tertentu. Networking bisa dijalin dengan cara ngobrol langsung atau pun melalui dunia maya. Ada banyak cara untuk menjalin networking penulis secara luas. Networking tidak hanya dilakukan secara regional saja tapi juga bisa dilakukan secara nasional atau bahkan internasional, misalnya dengan menjalin silaturahmi yang baik dengan komunitas-komunitas penulis baik di dalam dan luar negeri. Acara sharing dan berbagi pengetahuan dan pengalaman pun mendapat respon dan tanggapan yang cukup baik di antara para penulis yang hadir dalam pertemuan rutin FPKM kali ini. Acara pertemuan sekaligus halal bihalal ini baru berakhir menjelang sore hari, karena begitu banyak hal yang diobrolkan seputar dunia tulis menulis. Pada tanggal 25 Oktober 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini yang berperan sebagai pemateri adalah Mas Sidik Nugroho, seorang guru pengajar, cerpenis, esais, sekaligus pengamat buku dan penulis resensi. Wah banyak benar keahlian Mas yang satu ini. Resensi tulisan Mas Sidik banyak dimuat di berbagai media cetak di Indonesia, demikian pula dengan cerpen karyanya yang sudah terbit dalam bentuk antologi cerpen. Dalam pertemuan kali ini, Mas Sidik membahas mengenai tips dan trik serta tutorial menulis resensi secara mudah namun berkualitas. Berbagai pengalaman dan pengetahuannya seputar menulis resensi buku dituangkan dalam bentuk teori-teorinya yang mudah dipahami. Kontan saja hal ini membangkitkan antusiasme di kalangan para anggota dan pengurus FPKM yang akhir-akhir ini semakin eksis berkarya di jagat kepenulisan tanah air. Pengetahuan tentang menulis resensi yang baik dan obyektif merupakan hal penting yang perlu digali lebih banyak sebagai wujud apresiasi penulis di jagad kepenulisan dan perbukuan tanah air. Salut buat Mas Sidik!
November 2009
Bulan November 2009 diawali dengan pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang yang berlangsung pada hari Minggu, 8 November 2009, bertempat di teras Perpustakaan Kota Malang. Acara lesehan santai kali ini membahas dan mendiskusikan tentang puisi-puisi karya Mas Imam Mukhlis yang mengusung metafora-metafora unik dalam mengekspresikan suasana batin saat proses kreatif menulis puisi. Pertemuan dan diskusi seputar dunia puisi ini diwarnai oleh pertanyaan-pertanyaan maupun kritik seputar isi dari puisi yang dibawakan oleh penulisnya. Dunia sastra dan puisi memang seakan tiada habisnya untuk dikupas dan dibahas. Selalu muncul karya-karya dan ide-ide baru yang unik dalam proses berpuisi. Sementara itu ekspresi masing-masing seniman puisi juga memiliki corak warna yang berbeda-beda yang turut menganekaragamkan dunia sastra puisi di Indonesia. Tiap seniman puisi seakan memiliki ciri khas unik dan trademark tertentu yang menjadi label pada puisi karya-karya mereka. Ciri khas unik itulah yang mencoba selalu dimunculkan oleh sang penulis puisi untuk membedakan karya-karyanya dari corak karya puisi seniman lain. Acara pertemuan FPKM kali ini tidak hanya berbicara mengenai masalah puisi saja namun juga membahas berbagai aspek kepenulisan lain seperti aneka peluang menulis yang seolah tiada habisnya yang merupakan tambang emas bagi penulis untuk memperoleh penghasilan dari menulis. Berbagai media masa membuka peluang selebar-lebarnya untuk menerima tulisan dari para penulis, namun seringkali kita sebagai penulis kurang memanfaatkan peluang yang ada, padahal prospek di dunia tulis menulis masih sangat luas. Indonesia masih membutuhkan begitu banyak penulis, jadi memang prospeknya masih bagus untuk menjadi penulis maupun wartawan. Pada tanggal 22 November 2009 kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini sebagai pemateri adalah Mas Jemmy Sugianto, yang mengetengahkan tutorial menulis seputar penulisan naskah berita untuk media massa. Mas Jemmy menjelaskan panjang lebar berbagai hal berhubungan dengan teknik dan trik menulis naskah berita agar kelihatan menarik dan bernilai jual. Tulisan berita yang hambar dan cenderung membosankan perlu disulap menjadi sebuah artikel tulisan yang menarik. Untuk ini ada trik-trik khusus yang bisa dilakukan yaitu misalnya menampilkan judul berita (head news) yang bombastis tapi tetap jujur dan tidak mengada-ada. Awal berita (lead news) dengan diksi atau pilihan kata yang tepat juga merupakan daya tarik bagi berhasil tidaknya sebuah tulisan berita menarik perhatian pembacanya. Demikian pula tentang tubuh berita (body news) dan bagian penutup (ending) harus tetap bersifat obyektif, jujur dan tidak memihak, namun tetap mengetengahkan poin-poin penting yang menjadi intisari dari berita atau tulisan yang hendak disampaikan. Dalam menulis suatu berita atau artikel hasil peliputan, sebenarnya ada 5 hal yang harus selalu diperhatikan, yaitu bahwa jangan menambahkan sesuatu yang tidak ada, jangan menipu pembaca, berusaha selalu transparan mengenai metode yang dilakukan dan motif penulisan berita tersebut, sebagai penulis berita harus percaya pada keaslian reportase sendiri dan hindarkan kebiasaan copy paste dari hasil peliputan jurnalis lain, serta berusahalah selalu rendah hati dalam menulis maupun dalam proses wawancara dan peliputan agar narasumber dengan senang hati memberikan keterangan sehubungan dengan berita yang hendak ditulis. Mas Jemmy Sugianto dengan telaten dan detil menjelaskan bagian demi bagian dari materi yang disampaikannya, lengkap dengan contoh-contoh penulisan berita yang mudah diikuti dan dipahami oleh teman-teman penulis. Pengetahuan singkat mengenai jurnalistik ini setidaknya cukup berharga dan dapat menjadi bekal bagi teman-teman penulis dalam menghasilkan tulisan maupun artikel yang berkualitas, obyektif dan cukup valid serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di tengah persaingan media yang cukup ketat dewasa ini, ujung tombak penentu oplah dan rating berita terletak pada penulis-penulis handal maupun jurnalis yang menentukan corak dan warna dari sebuah media massa sehingga tampil menarik dan mendapat kepercayaan masyarakat. Agaknya hal ini pulalah, yang menjadikan Forum Penulis Kota Malang memperoleh kepercayaan dari penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama - Jakarta, untuk menjadi saluran penampungan naskah para penulis di Jawa Timur. Berbekal profesionalitas dan kerja keras, Forum Penulis Kota Malang berusaha mengangkat potensi para penulis di daerah, khususnya di area Malang Raya dan Propinsi Jawa Timur untuk dapat menghasilkan naskah-naskah tulisan yang bermutu, dan layak tampil di jagat perbukuan dan kepenulisan tanah air. Bila Anda mengaku sebagai seorang penulis, mahir menulis, dan mempunyai karya karya tulisan yang berbobot, mengapa tidak langsung saja bergabung bersama FPKM, di mana Anda bisa berdiskusi langsung, tanya jawab dan memperoleh informasi-informasi terkini seputar peluang menulis dan juga berbagai panduan gratis untuk memulai karir sebagai seorang penulis profesional, baik berprofesi sebagai wartawan, kolumnis, penulis buku, novelis, atau bahkan penulis naskah skenario sinetron televisi. Semua pengetahuan bisa diperoleh gratis di sini, hanya berbekal semangat, ketekunan, ketelatenan, dan tentu saja semangat saling berbagi dan belajar bersama.
Desember 2009
Bulan Desember 2009 ini acara dunia perbukuan cukup meriah. Pertemuan FPKM kembali digelar pada hari Minggu, tanggal 13 Desember 2009. Pertemuan rutin FPKM kali ini mengemukakan topik yang cukup hangat yaitu sharing mengenai suka duka dan pengalaman menulis artikel dan menulis buku. Sebagai pembicara adalah Mbak Etty Hentihu. Acara pertemuan yang berlangsung santai ini bertempat di halaman samping museum Brawijaya Malang, di Jalan Raya Ijen. Diskusi dan sharing pengetahuan dan pengalaman seputar menulis ini dimeriahkan oleh aneka camilan dan es yang menyegarkan. Berbagai tema dan ide menarik bisa dituangkan menjadi sebuah artikel ataupun novel. Mbak Etty yang sudah berpengalaman menulis novel maupun antologi cerpen membagi pengalamannya secara detil pada teman-teman penulis di komunitas FPKM ini. Seperti biasa acara baru berakhir menjelang sore hari yang diwarnai oleh gelak tawa dan obrolan akrab sesama penulis. Pada Jumat siang sehabis sholat Jumat, tepatnya pukul tiga sore, tanggal 18 Desember 2009, berlangsung acara bedah buku Soe Hok Gie, bersama sutradara ternama Riri Reza dan Mira Lesmana, bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang. FPKM kebagian jadi panitia. Acara bedah buku dan juga diskusi mengenai film Soe Hok Gie berlangsung meriah. Acara ditutup dengan penjualan buku Soe Hok Gie dan tentu saja mendapat sambutan yang cukup meriah dari para pengunjung perpustakaan kota Malang. Tak terasa dua minggu berselang sejak pertemuan FPKM yang lalu. Pada hari Minggu, 27 Desember 2009, kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini membicarakan tentang rencana peluncuran buku antologi cerpen FPKM di tahun 2010. Mas David Ardyanto selaku ketua komunitas FPKM angkat bicara. Rencananya buku antologi cerpen ini akan diterbitkan secara indie. Ide peluncuran buku antologi cerpen FPKM sebenarnya sudah merupakan agenda lama yang selalu tertunda karena kesibukan masing-masing anggota. Nah, kali ini rencana peluncuran buku antologi FPKM harus benar-benar dapat direalisasikan pada 2010. Sebagai editor buku antologi cerpen, Mbak Etty menyatakan kesanggupannya. Untuk desain sampul, sudah ada beberapa teman yang menyatakan kesanggupannya untuk melayout dan merancang desain sampul yang eye catching, diantaranya adalah Mas Jemmy Sugianto seorang blogger dan penulis kota Malang yang mempunyai jam terbang cukup tinggi karena bekerja di salah satu media web content situs internet di kota Malang. Untuk publikasinya rencana juga akan melalui website-website dan dari mulut ke mulut. Sederhana saja, sekedar untuk menghimpun karya teman-teman penulis yang jumlahnya cukup banyak, selain tentunya sebagai wujud eksistensi komunitas penulis FPKM yang sudah berdiri tiga tahun lamanya dan sekarang telah menginjak tahun keempat. Acara pertemuan dan diskusi ini berlangsung cukup seru dan meriah diwarnai oleh acara foto-fotoan super narsis ala anggota dan pengurus FPKM. Mas Dwi Kristianto, salah seorang anggota FPKM yang kebetulan sedang cuti akhir tahun dari pekerjaannya di salah satu media cetak di Jakarta, turut hadir dalam acara ini. Akhirnya acara temu kangen dengan para anggota pun berlanjut dengan acara jalan-jalan sore ke Mall Malang Olimpic Garden, sekedar untuk window shopping (cuci mata tanpa shopping), foto bersama, sambil menonton acara fashion show yang kebetulan digelar di mall favorit warga Malang tersebut.
FPKM NEWS
DISKUSI DAN BERBAGI PENGALAMAN SEPUTAR DUNIA KEPENULISAN
Pertemuan FPKM kembali digelar pada hari Minggu, tanggal 13 Desember 2009. Pertemuan rutin FPKM kali ini mengemukakan topik yang cukup hangat yaitu sharing mengenai suka duka dan pengalaman menulis artikel dan menulis buku. Sebagai pembicara adalah Mbak Etty Hentihu. Acara pertemuan yang berlangsung santai ini bertempat di halaman samping museum Brawijaya Malang, di Jalan Raya Ijen. Diskusi dan sharing pengetahuan dan pengalaman seputar menulis ini dimeriahkan oleh aneka camilan dan es yang menyegarkan. Berbagai tema dan ide menarik bisa dituangkan menjadi sebuah artikel ataupun novel. Mbak Etty yang sudah berpengalaman menulis novel maupun antologi cerpen membagi pengalamannya secara detil pada teman-teman penulis di komunitas FPKM ini. Seperti biasa acara baru berakhir menjelang sore hari yang diwarnai oleh gelak tawa dan obrolan akrab sesama penulis.
BEDAH BUKU DAN FILM SOE HOK GIE DI MALANG
Pada Jumat siang sehabis sholat Jumat, tepatnya pukul tiga sore, tanggal 18 Desember 2009, berlangsung acara bedah buku Soe Hok Gie, bersama sutradara ternama Riri Reza dan Mira Lesmana, bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang. FPKM kebagian jadi panitia. Acara bedah buku dan juga diskusi mengenai film Soe Hok Gie berlangsung meriah. Acara ditutup dengan penjualan buku Soe Hok Gie dan tentu saja mendapat sambutan yang cukup meriah dari para pengunjung perpustakaan kota Malang.
DISKUSI RENCANA PENYUSUNAN BUKU ANTOLOGI CERPEN FPKM
Tak terasa dua minggu berselang sejak pertemuan FPKM yang lalu. Pada hari Minggu, 27 Desember 2009, kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini membicarakan tentang rencana peluncuran buku antologi cerpen FPKM di tahun 2010. Mas David Ardyanto selaku ketua komunitas FPKM angkat bicara. Rencananya buku antologi cerpen ini akan diterbitkan secara indie. Ide peluncuran buku antologi cerpen FPKM sebenarnya sudah merupakan agenda lama yang selalu tertunda karena kesibukan masing-masing anggota. Nah, kali ini rencana peluncuran buku antologi FPKM harus benar-benar dapat direalisasikan pada 2010. Sebagai editor buku antologi cerpen, Mbak Etty menyatakan kesanggupannya. Untuk desain sampul, sudah ada beberapa teman yang menyatakan kesanggupannya untuk melayout dan merancang desain sampul yang eye catching, diantaranya adalah Mas Jemmy Sugianto seorang blogger dan penulis kota Malang yang mempunyai jam terbang cukup tinggi karena bekerja di salah satu media web content situs internet di kota Malang. Untuk publikasinya rencana juga akan melalui website-website dan dari mulut ke mulut. Sederhana saja, sekedar untuk menghimpun karya teman-teman penulis yang jumlahnya cukup banyak, selain tentunya sebagai wujud eksistensi komunitas penulis FPKM yang sudah berdiri tiga tahun lamanya dan sekarang telah menginjak tahun keempat. Acara pertemuan dan diskusi ini berlangsung cukup seru dan meriah diwarnai oleh acara foto-fotoan super narsis ala anggota dan pengurus FPKM. Mas Dwi Kristianto, salah seorang anggota FPKM yang kebetulan sedang cuti akhir tahun dari pekerjaannya di salah satu media cetak di Jakarta, turut hadir dalam acara ini. Akhirnya acara temu kangen dengan para anggota pun berlanjut dengan acara jalan-jalan sore ke Mall Malang Olimpic Garden, sekedar untuk window shopping (cuci mata tanpa shopping) sambil menonton acara fashion show yang kebetulan digelar di mall favorit warga Malang tersebut.
BEDAH BUKU
Judul Buku: Sukses Wirausaha Laundry di Rumah
Penulis: Haryo Bagus Handoko
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xi + 138 halaman
Cetakan pertama, September 2009
Peresensi: Sidik Nugroho
Bulan Oktober 2009 ditandai dengan maraknya pemberitaan seputar penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) seantero Nusantara. Tak ayal, pemberitaan ini memancing ratusan ribu, bahkan jutaan orang, untuk berlomba-lomba mengejar status CPNS. Sebuah pola hidup yang bagi kebanyakan orang aman -- bahkan identik nyaman -- melekat pada status ini. Namun, berapa banyak orang yang nantinya gagal dalam ujian itu? Kita semua tahu: sangat banyak. Persaingan begitu ketat; sebuah posisi atau kebutuhan jabatan bisa diperebutkan oleh ratusan orang.
Nah, tiap orang sebenarnya diberi daya-kreatif agar mampu menghasilkan sesuatu. Dengan imajinasi, kreatifitas, dan kompetensi-kompetensi lainnya, setiap orang dapat berdaya-guna dan berhasil-guna menghidupi hidupnya. Tentunya, hal ini didukung pula dengan rangkaian sumber-daya yang memadai.
Hal inilah yang diuraikan dengan gamblang di bagian awal buku karya Haryo Bagus Handoko ini (dalam bab 1). Buku ini menyingkap dengan jitu di bagian awalnya: bahwa sebuah bisnis -- yang dulu tampaknya dimiliki segelintir orang berduit -- dapat dilakukan dengan manajemen sederhana dan modal kecil. Ya, bisnis laundry kini bertebaran di mana-mana. Semua orang, dengan modal yang tak terlalu besar, dapat memulai bisnis ini, dan berpeluang menemukan suatu kesuksesan finansial dalam hidupnya.
Haryo Bagus Handoko adalah penulis telaten. Ia adalah pencatat yang detil sekaligus fotografer yang andal. Dalam bukunya ini ia tak hanya bicara serangkaian kiat atau suntikan motivasi yang penuh buih. Bahasanya lugas, pun deskripsi dan pembahasannya senantiasa menuju poin-poin yang memang patut diberi perhatian oleh sidang pembaca. Ia dengan lihai dan wajar menyampaikan hal-hal yang memang perlu dilakukan dalam mengemas sebuah paket usaha bernama laundry.
Buku ini dibagi menjadi sembilan bab. Setelah bab pertama yang mencelikkan sidang pembaca tentang kemungkinan besar peraihan sukses dari bisnis ini, Haryo kemudian mengurai dengan apik bagaimana dan apa saja persiapan yang perlu dilakukan dalam memulai sebuah usaha laundry; pengelolaan usaha ini; dan kemudian detil pengoperasian usaha ini. Hingga di sini, bahasan yang disampaikan Haryo berbaur dengan beberapa motivasi yang kerap tersirat.
Pada dua bagian berikutnya, Haryo mulai membahas hal yang bersifat teknis dan operasional. Ini berkaitan dengan bagaimana kita menangani bermacam noda yang ada pada sebuah pakaian -- atau produk selain pakaian yang dapat ditangani dengan usaha laundry. Kemudian, dengan gamblang pula ia menguraikan bentuk dan pola administrasi (pembukuan) yang bisa dilakukan dalam usaha laundry. Di dua poin inilah tampak benar kelebihan buku ini: penjabarannya tak hanya motivatif nan inspiratif, namun memuat beragam deskripsi yang perlu dan vital. Haryo bahkan menuliskan beberapa software yang dapat diunduh dari internet untuk kepentingan administratif perusahaan laundry.
Tak berhenti sampai di situ, Haryo menambahkan beberapa bahasan seputar upaya-upaya memperbesar usaha. Dengan teliti dan amat deskriptif ia menguraikan apa saja yang dapat pembaca lakukan agar bisnis ini dapat berkembang dan meluas wilayah pemasarannya. Dan demi menguatkan pembahasannya, Haryo mengusung beberapa kisah inspiratif tentang beberapa wirausahawan laundry yang dapat ditelusuri jejaknya. Kisah-kisah ini tertutur jujur -- mereka yang dikisahkan semuanya memiliki alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi.
Di bagian akhir, Haryo menutup bukunya dengan melampirkan analisis usaha yang akan jadi panutan utama bagi para pemula bisnis ini. Dengan lugas ia menyampaikan tentang peran modal, biaya operasional, payback period (waktu pengembalian modal), hingga penghitungan rugi-laba. Semua ini merupakan rangkaian langkah taktis sekaligus teknis bagi pembaca yang memang berniat menekuni bidang usaha ini.
Buku ini terhitung lengkap sebagai sebuah acuan bagi para usahawan yang tertarik menekuni bisnis laundry. Bahkan, buku ini tampak seperti sebuah buku teks. Kita dapat saja membacanya dari awal sampai akhir seperti membaca novel; namun mengingat bentuk pembahasannya yang memuat beraneka poin taktis dan teknis, tak dapat dielakkan: buku ini perlu dibuka lagi -- dan lagi -- oleh para pebisnis laundry yang mengharapkan kemajuan dan perkembangan usaha.
Namun, yang menjadi kelemahan buku ini adalah desain dan lay-out-nya. Gambar di sampul depan buku ini tampak kurang ceria dan kurang menarik. Terlalu minimalis: hanya memuat empat baris judul, gambar setumpuk pakaian di dalam sebuah keranjang, dan nama penulis. Selain itu, foto-foto yang ada di halaman-halaman buku ini, beberapa di antaranya tampil kurang maksimal karena pengecilan yang agak berlebihan. Seharusnya, foto-foto di dalam buku ini bisa menjadi ilustrasi yang lebih hidup bila ditampilkan lebih proporsional.
Terlepas dari kelemahan itu, buku ini sangat patut dikoleksi oleh para wirausahawan muda. Bisnis laundry, dalam pembahasan yang ada di buku ini, tampak menjanjikan prospek bagus. Seperti yang telah disampaikan di bagian depan tulisan ini, banyak orang mungkin akan pupus harapan ketika tidak lolos CPNS -- atau tidak diterima setelah melamar kerja di sebuah perusahaan impian. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Tak ada salahnya pula mencoba usaha laundry. Ya, karena buku petunjuknya kini sudah tersedia bagi Anda semua.
BEDAH BUKU
Judul Buku: Cita-cita
Penulis: M. Iqbal Dawami
Penerbit: Diva Press
Tebal: 234 halaman
Cetakan Pertama, Mei 2009
Peresensi: Sidik Nugroho
"Keberhasilan adalah hak kita. Datangkanlah keberhasilan dengan cara-cara yang baik; perhatikan penggunaan waktu Anda, lalu lihatlah apa yang terjadi kemudian." -- Mario Teguh
Kata-kata Mario Teguh di atas rasanya tepat benar mewakili hidup komponis besar Beethoven, seorang musisi yang amat terkenal dan melegenda -- utamanya karena ia terus berkreasi ketika tuli total saat dan setelah berusia lima puluh tahun.
Beethoven menjadi komponis besar karena ketekunannya. H.A. Rudall, penulis biografinya, menyatakan, "Pada musim dingin atau musim panas, Beethoven bangun pagi saat matahari terbit. Kemudian, dia duduk di depan meja tulisnya, dan terus menulis sampai waktu makan siang yang biasanya dia lakukan pada pukul dua atau tiga sore. Pekerjaannya tidak pernah terputus kecuali untuk berjalan-jalan mencari udara segar, tapi selalu dengan menuliskan notes untuk menuliskan inspirasi segar yang didapatnya saat berjalan."
Karya-karyanya kemudian bertahan lama, diakui banyak kalangan sebagai karya-karya yang hebat. Tanpa perjuangan yang keras, tidak mungkin ia bisa sehebat itu. Memang ada juga musisi yang sangat cerdas, seperti Mozart "Sang Anak Ajaib". Dalam sebuah buku disebutkan bahwa Mozart adalah orang yang sangat tergesa-gesa, selain suka berfoya-foya. Dibandingkan Beethoven, keteraturan dan kedisiplinannya dalam berkarya rasanya jauh berbeda.
Namun, tak bisa disangkal, musik-musik Mozart yang mewakili ekspresi-ekspresi spontan yang berawal dari kelelahannya, adalah musik-musik yang luar biasa. Sayangnya, Mozart mati muda. Beberapa orang beranggapan ini juga terjadi karena kekurangteraturan hidupnya.
Mozart dan Beethoven. Dua pribadi, dua kebiasaan. Dari keduanya kita dapat bercermin. Tak banyak orang yang lahir seperti Mozart. Ia dianugerahi Tuhan kecerdasan musikal yang sangat tinggi. Anggapan ini bukan berarti bahwa kemahirannya mencipta lagu tak perlu diasah dengan berlatih secara serius, namun lebih berdasarkan kenyataan bahwa dia memahami musik lebih cepat. Berbeda dengan Mozart, Beethoven lebih menyisakan jejak kehidupan yang lebih mungkin ditiru oleh pembaca riwayat hidupnya secara alami.
Ketelitian, kemahiran, dan keapikan sebuah karya lahir dari inspirasi tanpa henti yang terus digali dan dipelajari dalam hidup seseorang yang bercita-cita.
Nah, kali ini, Anda tidak sedang membaca sebuah ulasan atas buku tentang musik. Dalam buku inspirasi dan motivasi karya Iqbal Dawami ini, secuil kisah hidup Beethoven yang sangat menarik ini, rasanya sangat mewakili pesan penulisnya tentang hakikat hidup: kita harus memiliki cita-cita. Iqbal, lewat puspa-ragam kisah, ilustrasi dan pemikiran yang disampaikannya dalam buku ini, secara tegas hendak menggarisbawahi apa yang pernah dinyatakan John C. Maxwell: "Lebih baik Anda memiliki cita-cita dan kemudian tak berhasil meraihnya, daripada tak pernah memilikinya."
Dalam buku ini terdapat 23 renungan yang sarat dengan hikmah dan petuah. Semuanya merupakan artikel lepas pada awalnya, tak saling bersinggungan satu dengan yang lain. Yang menjadi benang merahnya adalah sebuah niat yang muncul dari penulisnya agar pembaca dapat mengubah kelemahan/kegagalan menuju optimisme/kekuatan hidup.
Iqbal adalah penulis yang kaya akan perspektif. Sebagian kisah atau ilustrasi yang ia gunakan di tiap-tiap artikelnya di buku ini mungkin sudah pernah Anda baca di internet. Namun, cara Iqbal mengurai dan menghadirkan penafsiran dari tiap kisah yang diangkatnya, terasa segar dan lain. Kita jadi betah menikmati apa yang disuguhkannya.
Selain itu, Iqbal adalah penulis yang berdimensi luas. Di buku ini kita akan mendapati artikel-artikel dengan beragam latar atau ilustrasi. Ada yang membahas hidup seorang penulis. Ada yang diangkat setelah menyaksikan sebuah film. Ada yang digarap dengan merenungkan dalam-dalam tentang hakikat dan hal-hal seputar cinta dan waktu. Semuanya menuntun kita untuk mengingat lagi -- juga merenungkan, bahkan menemukan -- apa yang harus kita utamakan dalam kehidupan ini, meraih cita-cita dan mengatasi berbagai persoalan hidup.
Sebagai saran penutup, bab-bab dalam buku ini, tak perlulah dibaca terburu-buru. Masing-masing menyediakan renungan yang indah dan tersendiri untuk dihayati. Ibarat meminum teh, kala malam seorang diri -- kita tak buru-buru menghabiskannya. Kita menyeruputnya pelan-pelan, menikmati kehangatan yang dihadirkannya di leher dan perut kita. Dan, meminum teh rasanya bukan hanya tepat menjadi ibarat bagi cara menikmati buku ini. Bila Anda suka meminum teh, rasanya akan nikmat sekali membalik-balik lembaran buku ini dalam kesunyian malam, ditemani secangkir teh.
BEDAH BUKU
Judul buku : Mendidik Anak Berjurnalistik
Pengarang : Hendrik J. Teteregoh
Penerbit : Pohon Cahaya
Jumlah halaman : 122 halaman
Peresensi: Lutfi Fadila
Dunia jurnalisme adalah dunia yang sangat menantang, membutuhkan kejelian, keakuratan serta ketepatan dalam bertindak. Manusia-manusia yang terlibat di dalamnya selalu bertindak dengan tangkas dan terampil menangani tugas yang mereka kerjakan. Hasil pekerjaan mereka dengan cepat meluas di berbagai bentuk media massa dalam bentuk reportase yang ditunggu masyarakat luas yang haus berita baik di sekitar maupun di luar daerah mereka.
Dunia elit jurnalisme bukanlah milik orang-orang dewasa semata, siswa-siswa yang duduk di bangku SMA dan SMP tertarik untuk terlibat dalam kegiatan jurnalistik. Kegiatan jurnalistik di bangku sekolah dapat terlihat keantusiasannya dalam berbagai macam kegiatan lomba majalah dinding seperti yang diadakan Deteksi JawaPos selalu ramai peminatnya. Tidak hanya ditempel dalam majalah dinding, reportase kegiatan-kegiatan intra sekolah, di beberapa SMA dan SMP, juga ada yang jadikan majalah yang lebih eksklusif dan diperjual-belikan di antara siswa-siswanya. Bagaimana dengan anak-anak SD?
Tidak sedikit anak-anak yang menjadi penikmat reportase dari beberapa majalah atau yang dikhususkan untuk anak-anak. Tapi bisa dihitung jumlah anak-anak yang ikut menjadi kontributor dalam majalah tersebut. Padahal mengenalkan dunia jurnalisme pada anak-anak sedini mungkin dapat mengurangi beberapa efek negatif yang ditularkan dunia jurnalisme kepada anak-anak yang hanya pasif sebagai konsumen media belaka, terutama media televise yang lebih banyak menjejali konsumennya dengan dunia konsumerisme. Efek positif yang didapat dengan mengajari anak-anak terlibat aktif dalam dunia jurnalisme adalah menanamkan sejak dini kegiatan membaca, menulis, berpendapat, dan yang lebih penting rasa percaya diri.
Dalam menyiapkan bahan berita, anak-anak akan terdorong untuk menyediakan berita-berita yang bermanfaat bagi pembacanya, maka sang reporter cilik tersebut otomatis akan berusaha mencari sumber-sumber berita dari buku, koran, atau majalah. Kegiatan membaca dari rasa ingin tahu tanpa paksaan tersebut akan membuat anak belajar memahami sesuatu secara lebih teratur melalui isi bacaan. Kegiatan menulis akan meningkatkan kreatifitas anak sekaligus mengembangkan keberanian siswa mengeluarkan pendapat secara runut.
Buku Mendidik Anak Berjurnalistik cukup membantu para orang tua dan pendidik untuk membuat anak-anak menggemari dunia jurnalisme karena didalamnya dilampirkan beberapa silabus pembelajaran jurnalistik untuk anak setahap demi setahap. Sejarah jurnalisme, definisi, fungsi dan prinsip jurnalistik terpapar dengan lengkap untuk ditransferkan pendidik kepada anak-anak.
BEDAH BUKU
Judul Buku: Simply Amazing, Insprasi Menyentuh Bergelimang Makna
Penulis: J. Sumardianta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: xv + 188 halaman
Cetakan pertama, April 2009
Peresensi: Sidik Nugroho
"Segala yang tidak kita berikan akan lenyap sia-sia," demikian pepatah India yang rasanya tepat benar menjadi roh dari buku Simply Amazing, Insprasi Menyentuh Bergelimang Makna karya J. Sumardianta ini. Penulis yang akrab dipanggil "Pak Guru" ini merangkai puluhan kisah yang sarat makna dan renungan dalam bukunya. Sehari-hari ia mengajar sebagai guru Sosiologi di SMA De Britto Jogja; dan kali ini Pak Guru yang getol membaca dan menulis ini mencoba memberikan hasil kembaranya kepada sidang pembaca.
Kembara Pak Guru dari buku ke buku, tokoh ke tokoh, tersaji dalam esai-esai yang berdaya tarik tersendiri lewat cara Pak Guru bertutur. Esai-esai puspa ragam yang dikumpulkan dalam buku ini telah tersebar di berbagai media massa sebelumnya. Esai-esai ini nyaman disimak, berdiksi mantap, dan memuat refleksi dengan gizi yang tinggi. Seperti Andy F. Noya yang mampu menguak sisi termenarik dari tiap orang yang diundangnya berbincang-bincang, Pak Guru juga menyuguhkan beraneka dimensi kekayaan batin dari tiap tokoh dan buku yang disebutnya -- yang ujung-ujungnya menghadirkan pencerahan belaka.
Di dalam buku ini ada esai dari buku Dominique Lapierre, pengarang novel City of Joy yang mahalaris. Buku Dominique yang di dalamnya mengisahkan seorang penarik angkong (di India disebut ricksaw) bernama Hasari ini sangat mempesona Pak Guru. Dalam bincang-bincang di Perpustakaan Umum kota Malang tanggal 31 Mei 2009 Pak Guru mengaku membaca buku dan menonton film adaptasi City of Joy berkali-kali. Hasari yang hidupnya bersahaja, biasa menanggung penderitaan, bahkan menjual anggota badannya di perusahaan pembuat alat peraga fakultas kedokteran untuk pernikahan Amrita putrinya, menyulut pengamatan Pak Guru yang jeli atas berbagai fenomena kemiskinan di negeri ini.
Kesahajaan, kemiskinan, dan penderitaan tampaknya selalu menjadi hal yang menarik bagi Pak Guru yang mengaku introvert dan menarik diri dari peredaran sosial ini. Dengan lugas dan tanpa tedeng aling-aling ia mengisahkan juga beberapa tokoh yang dalam kemiskinannya tetap hidup bermartabat, lalu mengaitkannya dengan kondisi jiwa rakyat bangsa ini yang makin lama makin hedonis, konsumtif, serba penuh kepalsuan dan tidak pernah puas. Hidup bermartabat dalam kemiskinan kemudian ia jadikan dasar untuk menelanjangi tayangan-tayangan "idiotainment" (olok-oloknya atas infotainment) yang hanya menghadirkan berita kawin-cerai, pesta pora, dan selingkuh para public figure; juga para politisi dan penguasa yang haus kekuasaan, berkedok pamrih dan keserakahan ketika mengatasnamakan berjuang demi rakyat dan keadilan.
Namun, Pak Guru tak berkutat dalam kemiskinan melulu. "Kaya bermanfaat, miskin bermartabat", demikian salah satu judul tulisannya di buku ini. Dalam kembaranya yang lain atas berbagai buku dan tokoh, lahir pula ulasannya atas orang-orang berduit yang dianggapnya mencapai puncak keberhasilan karena menemukan cara-cara kreatif dalam menangani pergumulan hidup. Ia yakin akan kebenaran dari pernyataan Robert Holden: "Hanya jika Anda pernah terhempas di lembah ketiadaan paling kelam, Anda baru akan tahu betapa hebat dan nikmatnya berada di puncak gunung keberhasilan."
Setidaknya ada dua orang orang sukses yang bisa mewakili kekagumannya akan perjuangan hidup mereka. Pertama adalah Thomas Sugiarto, lewat bukunya berjudul Your Great Success Start from Now. Thomas disebut Pak Guru sebagai seorang yang telah mencapai financial and time freedom. Ia seorang penjual asuransi yang menerapkan cara kerja leveraging system (konsep bekerja dengan seribu tangan) demi mencapai cita-cita tak banyak menguras energi dan pikiran (pensiun) saat berusia 45 tahun, dan berpenghasilan semilyar pada tahun 2012 nanti.
Kedua adalah Dahlan Iskan, CEO grup Jawa Pos yang di kelas 3 SMA hanya mampu memiliki sepatu rombeng dan sepeda butut, dan sering ngiler di masa kecilnya ketika melihat teman-temannya minum dawet karena tidak punya uang untuk membelinya. Membaca buku karya Yu Shi Gan (nama Tiongkok Dahlan Iskan) berjudul Ganti Hati yang laris-manis, Pak Guru dengan jeli mengurai daya tahan hidup Dahlan Iskan, lalu mengaitkannya dengan pemikiran Sindhunata lewat puisinya berjudul Ngelmu Pring. Puisi bahasa Jawa ini, sebuah baitnya berbunyi: "Ora gampang tugel merga melur" (Tidak gampang patah karena lentur). Ya, kelenturan hati tercipta dalam sosok Dahlan Iskan akibat sudah biasa menanggung derita yang mendera jiwa-raganya sejak muda.
Pak Guru, dalam bukunya ini juga merangkai sekelumit kisah hidupnya sendiri. Ia berjuang menjadi seorang guru bermartabat yang selalu menghadirkan informasi terkini bagi murid-muridnya lewat membaca. Itulah alasan mengapa ia terjun untuk menulis sesuatu dari apa yang dibacanya di sela-sela kesibukan mengajar. Ia juga mengisahkan SMA De Britto yang guru-gurunya rajin menulis. Ada St. Kartono pengarang buku Menebus Pendidikan yang Tergadai di sana yang disebutnya sebagai orang yang memulai tradisi menulis di kalangan guru SMA De Britto. Hingga kini, tulisan-tulisan Pak Guru masih menghiasi berbagai media cetak, utamanya tulisan berjenis ulasan buku. Di Indonesia, penulis ulasan buku masih terbilang sedikit. Bagi Anda yang ingin menakar kadar suatu buku dengan lebih dalam dan inspiratif; sehingga menjadikan sebuah esai atau ulasan lebih bernas dan menarik untuk dibanca tuntas, buku ini sangat baik untuk menjadi acuan.
BEDAH BUKU
Judul Buku : The Leader in Me: Kisah Sukses Sekolah dan Pendidik Menggali Potensi Terbesar Setiap Anak.
Penulis : Steven R. Covey
Tebal : 294 hlm
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2009
Peresensi: Lutfi Fadila
Sebuah reformasi di bidang pendidikan tengah gencar melanda dunia saat ini. Bukan mengarahkan pendidikan pada basis modernisasi tetapi mengembalikan pendidikan pada prinsip dasarnya. Berawal dari sinergi keinginan orangtua, pengusaha penyandang dana sekolah, dan juga pendidik, yang prihatin dengan minimnya keahlian hidup generasi muda dalam menghadapi globalisasi, sebuah sekolah di bagian negara North Carolina proaktif mendesain pendidikan sekolah yang berbasis leadership atau kepemimpinan untuk anak SD. Semakin dini sebuah pembelajaran diberlakukan, maka semakin muda ilmu tersebut menempel di benak dan perilaku seseorang.
Adalah Muriel Summers, kepala sekolah A.B.Combs Elementary, yang tergiring hatinya untuk menerapkan prinsip kepemimpinan kepada anak-anak di usia dini setelah merasakan manfaat mengikuti seminar 7 Kebiasaan Orang Efektif. Inti kurikulum sekolah kepemimpinan yang dia canangkan adalah sistem pengajaran yang menciptakan lingkungan sekolah sedemikian hingga mampu membentuk pribadi siswa mandiri, bertanggung jawab atas kehidupan masing-masing, mampu memecahkan masalah dengan ide-ide solutif, berkomunikasi secara lisan dan tertulis, berani bekerjasama dan menghormati individu lain. Beberapa hal positif yang dilaporkan beberapa sekolah yang telah menerapkan tema kepemimpinan adalah: meningkatnya prestasi dan rasa percaya diri siswa serta menurunnya pelanggaran disiplin.
Ada sebuah prinsip dasar yang digunakan sebagai pengajaran di sekolah tersebut yaitu 7 kebiasaan orang-orang efektif. Tujuh kebiasaan itu adalah proaktif, mulai dengan tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang, pahami orang lain dahulu baru dipahami, lakukan sinergi, dan asah gergaji. Mengajarkan tujuh kebiasaan tersebut di sekolah bukan berarti menceramahi siswa tentang prinsip tersebut sepanjang pelajaran, tetapi menyatukan prinsip-prinsip tersebut dengan kegiatan mata pelajaran inti. Contohnya di kelas, guru membagi kelas dalam tim-tim kecil. Dalam tim tersebut masing-masing siswa mendapat peran sebagai pemimpin; pemimpin catatan, pengatur waktu, dan pembicara, yang masing-masing bertanggung jawab penuh dengan tugasnya.
Dalam setiap gerak langkah sekolah pun tujuh kebiasaan tersebut diterapkan. Kebiasaan pagi di A.B.Combs ketika masuk kelas, para siswa disambut oleh guru dan tim penyambut yang bertugas memberikan sapaan hangat dan pujian positif kepada teman sekelas. Kegiatan tersebut akan memunculkan budaya menghargai orang lain sehingga akan menumbuhkan rasa percaya diri dan terbuka. Jadi siswa akan betah berada di sekolah dan patuh menerima pelajaran.
Bagaimana membuat siswa berumur 5-12 tahun bisa memahami arti kepemimpinan menjadi agenda utama di A.B.Combs. Tiga perangkat utama yang dipakai di sekolah, selain mengajarkan prinsip 7 kebiasaan yang wajib dikuasai dan diterapkan para staff sekolah dahulu sebelum ditularkan pada murid, adalah alat Baldrige, strategi Ubiquitous, dan buku catatan pribadi.
Alat Baldrige adalah alat kualitas berbentuk diagram dan gambar yang digunakan untuk membantu siswa dalam memperjelas konsep sebuah kejadian, merumuskan masalah, dan mencari solusi dengan cara visual dan menarik. Aplikasinya dalam mata pelajaran sastra, siswa disuguhi sebuah cerita kemudian siswa menuliskannya dalam diagram tentang karakter tokoh, seting, masalah yang timbul, solusi yang hadir, serta koneksi yang bisa dipikirkan siswa dengan kehidupan sehari-harinya.
Strategi Ubiquitous bisa diartikan sebagai sistem penerapan yang menggabungkan pengajaran kepemimpinan dengan pelajaran inti dan juga kegiatan sehari-hari di sekolah. Jadi prinsip kepemimpinan diajarkan setiap hari sejak masuk lingkungan sekolah, bahkan siswa tak sadar mereka sedang mempelajarinya.
Buku catatan bagi siswa A.B.Combs adalah barang pribadi yang wajib dimiliki. Di dalamnya berisi catatan target pribadi sehari-hari, target akademik, dan kemajuan dalam mencapai target. Manfaat buku ini adalah memberi umpan balik yang akan mendorong prestasi siswa. Dengan buku ini siswa akan membandingkan diri dengan target sendiri dan nilai yang mereka peroleh sebelumnya. Bukan membandingkan diri dengan siswa lain.
Dengan berpegang pada 4 perangkat utama tersebut, A.B.Combs pelahan-lahan menjadikan kepemimpinan sebagai budaya sekolah. Sikap kepemimpinan telah menyatu menjadi perilaku, bahasa, tradisi, benda budaya, dan cerita lisan. Untuk membentuk perilaku, setiap awal tahun ajaran selama satu minggu penuh guru dan siswa akan berbicara tentang 7 kebiasaan, sopan santun dan etika kepemimpinan. Bahasa yang dipakai dalam sekolah mencerminkan budaya kepemimpinan mereka, salah satunya, menghormati orang lain: “Kami berfokus pada apa yang mereka bisa lakukan bukan apa yang tidak bisa mereka lakkukan,” atau “Anak-anak, kalian kemarin telah melaksanakan tanggung jawab dengan sangat baik. Kami bangga dengan kalian.” Dengan kata lain, meyakini potensi anak-anak dan mengungkapkannya adalah bahasa sekolah kepemimpinan.
Tradisi yang dikembangkan A.B.Combs bermacam-macam: perayaan hari kepemimpinan, inaugurasi, festival internasional, dan beberapa kegiatan dimana siswa diberi kesempatan memamerkan bakat dan menjadi pemimpin. Tradisi cerita lisan yang berkembang di sekolah ini cukup banyak. Seperti salah satunya kisah proaktif dan kepemimpinan berikut. Suatu hari seorang pemimpin paduan suara terlambat datang, seorang siswa kelas 4 tanpa ditunjuk berinisiatif berdiri di depan kelompok paduan dan melakukan pemanasan.
Hal-hal baik selalu menjadi pandangan positif bagi dunia sekitar dan dijadikan sebagai contoh bagi yang lain. A.B.Combs yang menciptakan kurikulum kepemimpinan sejak tahun 1999 dan mulai dari 0, terlihat gaungnya setelah 5 tahun berjalan. Beberapa sekolah di seluruh negara bagian Amerika mengadakan kunjungan untuk mendapatkan ide pembaharuan dalam mendidik. Beberapa sekolah yang mulai menerapkan kurikulum kepemimpinan tidak hanya dari negara Amerika saja tetapi sudah melintasi benua. Mulai dari Eropa, Australia, dan juga Asia. Di antara negara Asia yang telah menerapkan sistem ini adalah Singapura. Jepang dan Malaysia belum memasukkan sistem ini pada kurikulum sekolah formal tetapi diterapkan dalam beberapa lembaga bimbingan belajar yang terbukti mampu meningkatkan prestasi akademik siswa secara signifikan.
Jika orang tua di Indonesia belum menemukan sekolah seperti itu sebagai tempat pendidikan terbaik anak-anak, tidak perlu kecewa. Stephen Covey menambahkan di bukunya bahwa pendidikan kepemimpinan bisa dilakukan di rumah. Cara penerapannya tidak jauh beda dengan di sekolah-sekolah kepemimpinan, yaitu: menerapkan prinsip 7 kebiasaan dan menggunakan alat-alat kualitas yang bisa diciptakan sesuai kreatifitas orangtua. Yang terpenting, orangtua sebagai pendidik harus sudah memahami dan menerapkan prinsip dasar kepemimpinan sebelum mengajarkannya pada anak. Jadi, anak bisa menyerap langsung contoh yang bisa dilihat dan dirasa. Kemudian si anak akan mendengar segala pengajaran dari orangtua dengan sadar tanpa paksaan.
Penulisan dan penataan bab dalam buku ini sangat bagus. Dikarenakan buku ini ditujukan pada para orang tua sekaligus pendidik maka penulis menggiring orangtua untuk memahami dulu arti kesuksesan dalam diri generasi muda. sebuah kesuksesan yang tidak bisa dilihat melalui kekayaan, jabatan, atau ketenaran. Untuk itu orangtua yang sering kali memaksakan harapannya pada sang buah hati akan dapat mengurangi ambisi mereka menuntut anak memperoleh kesuksesan semu. Setelah itu pembaca akan digiring untuk melihat kisah dan teknik pengajaran bertema kepemimpinan di beberapa sekolah seluruh dunia. Berikutnya ada beberapa tips khusus yang akan menguatkan para guru di seluruh dunia untuk turut serta menerapkan tema kepemimpinan ini di sekolah. Yang terakhir adalah membawa pendidikan berbasis kepemimpinan di rumah bersama orangtua yang peduli.
Orang-orang yang akan menghargai keberadaan buku ini adalah para pendidik dan orang tua yang benar-benar peduli dengan masa depan generasi dalam asuhannya dan mengharap anak-anak mereka benar-benar memiliki keahlian yang mereka butuhkan dalam menghadapi abad yang semakin tidak bisa diduga arahnya.
BEDAH BUKU
Judul buku: “Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima”
Pengarang: Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama (
http://www.gramedia.com)
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Jumlah halaman: 126 halaman
Profil buku:
http://pachypodium-indonesia.blogspot.com Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis
Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an. Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini. Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh. Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18. Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi. Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan. Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.
Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.
Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem. Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar. Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium. Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.
Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan. Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru. Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium. Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika. Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika. Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos. Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.
Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun. Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut. Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium = kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya. Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif. Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite). Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu). Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik. Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan. Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India). Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah. Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah. Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang. Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar. Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang. Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia. Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana. Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi. Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu. Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia. Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.
Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia. Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika. Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp). Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar. Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii. Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii. Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika. Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen. Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus. Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah. Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi.
Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi. Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air. Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias. Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga. Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain. Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan. Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia.
BEDAH BUKU
Judul Buku: Gajah Sang Penyihir (The Magician's Elephant)
Penulis: Kate DiCamillo
Ilustrasi: Yoko Tanaka
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: September, 2009
Tebal buku: 148 halaman
Peresensi: Sidik Nugroho
Peter Augustus Duchene adalah pria kecil yang malang. Dibesarkan di sebuah apartemen kumuh oleh Vilna Lutz, seorang mantan tentara tua yang suka membentak-bentak dan menyuruh-nyuruh, hidupnya terkesan muram. Sampai suatu ketika ia melihat seorang peramal, dan tertarik membayarkan satu florit untuk mendengar apa kata peramal itu. Padahal, seharusnya ia memakai satu florit itu untuk membeli ikan dan roti, seperti yang disuruhkan Vilna kepadanya.
Peramal itu, oleh Peter ditanyai sebuah hal yang paling meresahkan batinnya: apakah adiknya yang bernama Adele masih hidup? Jawaban yang diberikan sang peramal mengagetkannya: Adele masih hidup. Dan untuk menjumpai Adele, si peramal berkata: "Kau harus mengikuti gajahnya... gajah betina itu akan membawamu ke sana."
Harapan dalam diri Peter tersulut. Ia gembira, sekaligus bimbang dan bingung. Bagaimana tidak? Seekor gajah akan membawanya kepada Adele? Yang benar saja --gajah dari mana? Selain itu, Vilna Lutz tua yang sakit-sakitan itu, yang mengaku sebagai sahabat ayah Peter, menyatakan bahwa ramalan itu palsu. Sejak Peter hidup dengannya, Vilna telah menjejalkan kisah hidupnya yang lain: bahwa ayah Peter dulu adalah tentara yang hebat seperti dirinya, dan ia tak punya saudara lagi. Peter bahkan dilatih tiap hari dengan pelajaran seputar ketentaraan agar dapat menjadi tentara yang baik suatu ketika.
Namun, dengan cara yang ajaib, gajah itu benar-benar muncul, meresahkan segenap penduduk kota Baltese. Datangnya tak terduga pada sebuah acara yang digelar seorang penyihir. Penyihir itu, awalnya hendak membuat kejutan dengan menghadirkan hanya sebuket bunga lili dengan kemampuan sihirnya. Tak dinyana, ketika sihirnya ia mainkan, dari atas atap gedung opera seekor gajah yang besarnya bukan kepalang turun di tengah-tengah hadirin!
Gajah itu membuat remuk kaki seorang bangsawan bernama Madam LaVaughn. Ia harus duduk di kursi roda karena kecelakaan itu. Berita kedatangan gajah pun menyebar di seantero kota Baltese. Peter pun mendengarnya -- harapannya menemukan titik terang.
Dengan bantuan seorang polisi berbadan kecil bernama Leo Mattiene yang murah hati, seorang tukang batu pemberani yang suka tertawa sendiri bernama Bartok Whynn, Madam La Vaughn dan pelayannya yang bernama Hans Ickman, maka pencarian Peter akan Adele pun menjadi kisah yang menarik.
Kisah yang digarap Kate DiCamillo ini agak berbeda dari beberapa bukunya yang sebelumnya. Sebelum ini ia telah menulis beberapa cerita anak (yang juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Gramedia): The Tiger Rising, The Miraculous Journey of Edward Toulane, Because of Winn Dixie dan The Tale of Desperaux. Dua yang terakhir disebut sudah difilmkan. Bedanya adalah, baru ini Kate DiCamillo mengangkat hal berbau sihir dalam ceritanya. Ya, tetap juga ada kesamaan: tokoh berupa binatang tetap tampil sebagai tokoh dominan dalam bukunya kali ini. Namun, kisah-kisah di buku-bukunya yang sudah-sudah lebih banyak dibumbui dengan tema persahabatan, keluarga, atau kepahlawanan.
Apa pun tema yang digarap oleh Kate selalu menarik diikuti hingga tuntas, termasuk yang dilakukannya kali ini. Ini tak lain karena ia adalah seorang penulis yang berdedikasi penuh untuk menulis cerita anak-anak. Dalam sebuah wawancara ia mengaku menulis dua halaman dari hari Senin sampai Jumat sebelum bekerja di toko buku. Tulisan-tulisannya senantiasa tertutur rapi dan tak menjemukan. Ia pernah mendapatkan Newbery Medal, sebuah penghargaan untuk buku cerita anak-anak terbaik untuk bukunya The Tale of Desperaux.
Buku The Magician's Elephant merangkum kecerdasan Kate DiCamillo bercerita: runut, imajinatif, dan kaya akan frasa yang disebutkan beberapa kali untuk membentuk imajinasi pembaca agar menyelami situasi yang sedang terjadi di kota Baltese. Baltese adalah sebuah kota yang tak ada di belahan dunia mana pun -- sebuah negeri antah-berantah. Dalam sebuah wawancara lain, Kate menyebutkan setelah ia selesai menggarap bukunya ini, ia menonton sebuah film yang berlatar kota Bruges di Belgia. Ia menyatakan kota itu, Bruges, mirip dengan Baltese yang ia ciptakan.
Untuk melukiskan Baltese, juga para tokoh, dan situasi penting yang terjadi di sepanjang cerita, beruntunglah Kate mendapatkan Yoko Tanaka. Yoko, walau hanya mengandalkan nuansa hitam-putih dalam membuat ilustrasi, mampu mewakili imajinasi yang awalnya ada pada Kate. Gambar-gambar yang dibuatnya hampir semuanya terkesan muram. Ini mewakili situasi kota Baltese yang selalu mendung, namun tak kunjung disiram salju atau hujan.
Salah satu ilustrasi yang menarik adalah gambar yang dibuat Yoko ketika melukiskan sebuah kamar Rumah Yatim-Piatu Susteran Cahaya Abadi (halaman 56). Kamar tidur itu berlangit-langit tinggi dan artistik. Di sana ada 14 tempat tidur yang semuanya ditiduri oleh anak-anak yang sedang lelap, kecuali sebuah tempat tidur. Seorang gadis kecil terjaga di tempat tidur itu, duduk di tepi tempat tidurnya. Rambutnya yang dikepang dua dengan lucu, membuat kita yang mengamatinya ingin memeluknya. Dialah Adele, adik Peter yang di suatu malam resah tak bisa tidur akibat mimpi yang baru saja dialaminya.
Mimpi Adele hadir dalam tidurnya, bagai membawa harapan yang ada di benak Peter, abangnya, untuk bertemu dengannya. Namun, Adele yang masih belum genap tujuh tahun dan tidak tahu dengan lengkap jati-dirinya hanya bisa meraba-raba apakah mimpi itu akan mengubah hidupnya. Ia hanya tahu bahwa mimpi itu aneh, namun menyenangkan dan membahagiakannya.
Nah, akan bertemukah dua kakak beradik ini nantinya? Ke manakah gajah itu nantinya akan dibawa? Buku ini terlalu bagus untuk Anda lewatkan, bila Anda menyukai imajinasi yang sering melintasi benak anak-anak kecil. Yang jelas, Peter dikisahkan tak setengah-setengah berjuang menemukan Adele. Walau tak pernah dilihatnya, Peter menyayangi adiknya itu sepenuh hatinya. Perjuangan Peter ini, pada akhirnya membidikkan pertanyaan yang membongkar kesejatian pengharapan dan keyakinan kita akan sesuatu hal yang hendak kita gapai: Sudah sungguh-sungguhkah kita mengejarnya sejauh ini?
BEDAH BUKU
Judul buku : "Peta 50 Tempat Jajanan & Oleh-Oleh Khas di Malang"
Pengarang : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 116 halaman
Tahun terbit : Cetakan pertama, Februari 2009
Profil buku :
http://wisatakulinermalang.blogspot.com Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang. Namun sayangnya, dari sekian banyak liputan yang ada, belum pernah ada yang mengupas secara detil aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang sedemikian lengkap seperti halnya yang bisa Anda baca dalam buku ini.
Ulasan yang Anda jumpai dalam buku ini cukup menarik, lugas, dan detil, mulai dari sejarah berdirinya kota Malang, riwayat asal mula aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang, denah lokasi usaha yang berjualan jajanan dan oleh-oleh khas Malang, harga retail jajanan dan oleh-oleh, dan bahkan sampai dengan ulasan singkat tentang bahan dan cara pembuatan beberapa jajanan dan oleh-oleh khas Malang. Agar tampil cantik dan menarik, sebuah buku wisata kuliner tentunya harus pula disertai dengan ilustrasi foto apik yang dapat memberikan gambaran bagi para pembacanya, demikian pula dengan buku ini. Anda akan bisa menjumpai begitu banyak foto ilustrasi aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang mengundang selera. Aneka tempat jajanan dan oleh-oleh di Malang bisa Anda baca ulasannya dalam buku ini, mulai dari yang bercitarasa tempo dulu/legendaris, yang tradisional, kontemporer hingga yang bercitarasa modern dan kaya inovasi. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka jajanan, kue-kue, serta camilan nan lezat lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?
BEDAH BUKU
Judul buku : "Peta 50 Tempat Makan Makanan Favorit di Malang"
Pengarang : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 136 halaman
Tahun terbit : Cetakan pertama, Maret 2009
Profil buku :
http://wisatakulinermalang.blogspot.com Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka masakan favorit khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang.
Dalam buku ini akan dibahas secara tuntas beragam jenis masakan dan minuman khas kota Malang, tempat-tempat makan makanan favorit di Malang, lengkap dengan alamat dan denah lokasi, harga makanan dan minuman, hingga ulasan singkat tentang bahan dan cara memasak serta penyajian masakan. Diperkaya dengan ilustrasi foto-foto yang cantik dan membangkitkan selera makan, siapa yang tidak ingin mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang terkenal berporsi besar, berharga murah lagi terjangkau. Makan kenyang dengan porsi besar tidak harus merogoh kocek dalam-dalam, karena di Malang ada puluhan tempat makan yang menawarkan beragam jenis masakan bercitarasa lezat nan unik, cara penyajian yang menarik serta tempat makan yang nyaman, mulai dari yang legendaris, tradisional, kontemporer, hingga yang modern dan berkelas. Semuanya menawarkan beragam inovasi kuliner yang mengundang selera serta harga makanan yang cukup kompetitif lagi terjangkau. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang lezat, lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?
BEDAH BUKU
Judul buku : Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan
Pengarang : Hans J. Daeng
Penerbit : PT. Pustaka Pelajar Offset
Tebal halaman : 341 + xiii halaman
Peresensi : Sismanto
Manusia adalah organisme yang sangat kompleks, dimana secara hirarkisnya didasari oleh latar belakang atau asal usul dari penciptaan manusia itu sendiri. Karena manusia tu mempunyai jiwa fisik, yang mana keduanya mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Menurut Van den Daele pada dasarnya ada dua proses perubahan yang saling bertentangan yang terjadi secara bersamaan selama kehidupan itu berlangsung, yaitu proses perkembangan dan perubahan yang mendasar dari pengaruh internalisasi dan eksternalisasi pada manusia itu sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap tehadap perubahan dalam perkembangan diri manusia itu sendiri antara lain:
1. Penampilan diri
Penampilan diri yang terjadi pada diri manusia terjadi akibat dari pengaruh baik itu dari lingkungan ataupun dalam diri dirinya sendiri, hal ini didasari atas sikap dan perilaku terhadap lawan jenisnya dan juga ingin menunjukkan keindahan, kebolehan dan juga menampilkan apa yang menjadi kelebihan pada dirinya.
Perubahan-perubahan itu akan diterima oleh seseorang bilamana sikap dan perilakunya dipandang baik dan menyenangkan. Sedangkan perubahan-perubahan yang mengurangi penampilannya akan ditolak atau tidak diterima dan secara langsung akan berusaha untuk menutupinya.
2. Perilaku
Manakala perubahan dalam sikap perilaku itu dipandang memalukan atau kurang baik dalam pandangan umum, maka ia harus berusaha untuk merubah sikap tersebut bilamana ia telah dewasa, hal ini akan berpengaruh pada pergaulan dia di masyarakat.
3. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi mempunyai pengaruh besar terhadap sikap individu dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan, karena kewenangan dan kewibawaan pada usia muda itu sangat menurun disaat mereka menjelang pensiun. Sikap mereka terhadap pengalaman yang kurang baik itu akan direspon kurang menyenangkan baik di masyaakat ataupun di tempat-tempat lain.
4. Perubahan peranan
Sikap terhadap orang yang berbeda usia dan umur sangatlah dipengaruhi oleh peran yang mereka mainkan, bila peran mereka itu diubah, maka sikapnya akan kurang baik dan tidak merespon atau kurang senang.
5. Stereotip budaya (budaya meniru)
Dalam stereotip ini dipakai untuk menilai manusia, karena bertambahnya usia seseorang akan berpengaruh pada perubahan dan akan mudah untuk meniru-niru apa yang ia lihat dan ia alami dalam kehidupannya.
6. Nilai-nilai budaya
Setiap kebudayaan mempunyai nilai tertentu, yang berkaitan dengan usia-usia yang berbeda. Dalam usia ini ini sangat menyenangkan karena jiwa dan kepribadiannya cenderung bebas berdikaridan ingin mengetahui dirinya sendiri.
Kebudayaan merupakan adalah sebuah konsep yang memiliki varian definisi ditinjau dari sudut pandang apa dan dari mana diintepretasikan. Definisi yang paling menonjol adalah yang dikemukakan oleh Geezt yang menunjuk pada sebuah “sistem simbol” yang berfungsi untuk mengarahkan tingkah laku.
Tulisan Dr. Hans J. Daeng yang merupakan kumpulan tulisan yang ditulis dengan gaya yang mudah dibaca dikelompokkan ke dalam kelompok budaya umum yang melihat kebudayaan pada berbagai masyarakat dan dalam brbeagau bentuk simbol yang menata tingkah laku sosial. Sebagai seorang antropolog Dr. Hans J. Daeng melihat bahwa kebudayaan merupakan faktor yang berpengaruh langsung menata sistem dan struktur sosial.
Persoalan menonjol yang ditunjukkan dalam tulisan Dr. Hans J. Daeng bahwa perubahan itu merupakan hal yang konstan dan memperlihatkan proses dinamis dalam kehidupan suatu masyarakat, misalnya bahwa manusia itu adalah animal historicum yang menyimpan historicumnya sendiri (lihat hlm. 399).
Buku yang ditulis dengan pendekatan antopologis ini mengungkapkan makna yang kompleks dalam variasinya maupun dalam sifatnya yang universal. Dengan kebudayaan tampaknya hidup lebih bermakna dan manusia lebih arif dan bijaksana. Pada akhir tulisan Dr. Hans J. Daeng mengajak pembaca dalam perenungan yang dalam tentang makna hidup manusia dan mangajak untuk menjadi bijak mengikuti dinamika perubahan waktu yang menurut penulis tidak dapat dihindari.
Pada tulisan buku karya Dr. Hans J. Daeng masih belum rinci dalam arti secara konsepsi maupun bahasannya masih bersifat global dan universal. Hal ini dikarenakan terlalu luasnya bahasan dari buku.
BINCANG SASTRA
MENGAPA SEBUAH BUKU PERLU DITERJEMAHKAN ULANG?
Oleh: Wawan Eko Yulianto
Apa perlunya sebuah buku yang pernah diterjemahkan puluhan tahun lalu diterjemahkan lagi oleh penerjemah yang berbeda?
Itulah pertanyaan yang menggantung di benak saya ketika membaca curriculum vitae Breon Mitchell, seorang profesor comparative literature asal Indiana University, Bloomington yang hadir di kampus kami beberapa waktu lalu sebagai penerjemah tamu. Prof. Breon Mitchell telah menerjemah ulang The Trial (Franz Kafka) dan saat itu sedang menyelesaikan penerjemahan The Tin Drum (Günter Grass) dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris. Sebenarnya, masing-masing buku itu telah diterjemahkan puluhan tahun sebelumnya. The Trial, dalam edisi bahasa Inggris yang terkenal, diterjemahkan oleh pasangan Muir, dan The Tin Drum diterjemahkan oleh Ralph Manheim.
Mungkin akan terlintas di benak kita pertanyaan-pertanyaan semacam: “Apakah ada kesalahan pada masing-masing edisi terjemahan tersebut, sehingga harus 'dikoreksi'?” Namun, apa yang disampaikan oleh Breon Mitchell sendiri ternyata lebih dari sekedar salah dan benar. Banyak fakta menarik yang layak diambil sebagai pelajaran. Khusus untuk kesempatan ini, saya akan banyak menyoroti hal-hal yang terkait dengan proses penerjemahan The Tin Drum, mengingat tahun 2009 ini adalah peringatan 50 tahun penerbitan novel itu sejak diterbitkan pertama kali dalam bahasa Jerman. Lagipula, masih hangat di benak para pemerhati sastra bagaimana Günter Grass yang telah menjadi otoritas moral di negaranya itu membuat pengakuan mengejutkan dalam sebuah wawancara sebelum peluncuran bukunya Peeling the Onion (2006) bahwa dia terlibat dengan Waffen-SS, sayap militer partai Nazi.
Yang Personal
Di pihak sastrawan, Günter Grass sendiri ternyata telah sekitar 35 tahun menginginkan penerbitnya menerjemah ulang The Tin Drum. Grass menginginkan ada alternatif bagi pembaca, dan dia menunjukkan kesan kekurangpuasan dengan hasil terjemahan Ralph Manheim. Namun, penerbitnya kurang menggubris keinginan Grass tersebut. Ada kesan di pihak penerbit muncul semacam pertanyaan, 'Kenapa harus diterjemahkan ulang, mengeluarkan duit ulang, kalau edisi yang sudah ada di pasaran saja, yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah kawakan, sudah bisa menyedot pembaca dan membuat Grass seterkenal ini di kalangan publik pembaca bahasa Inggris?'. Memang, fakta itu tak bisa dipungkiri. Bahkan, menurut Breon, terjemahan Manheim ini punya andil besar mengajak publik melirik sastra Jerman secara umum. Dan sangat besar kemungkinannya edisi Inggris inilah yang akhirnya membuka jalan sehingga banyak orang tertarik kepada Grass dan karya-karyanya selanjutnya hingga akhirnya dia bisa berkesempatan menyampaikan pidato penganugerahan Nobel Kesusastraan yang legendaris itu.
Akhirnya, penerbit pun mengiyakan keinginan Grass tersebut. Itupun karena memang momennya sedang tepat, yaitu peringatan 50 tahun penerbitan edisi pertama novel tersebut.
Di pihak penerjemah, ada kisah menarik sebelum dimulainya proses penerjemahan. Sebagai seorang profesor yang harus membimbing disertasi beberapa calon doktor dan menjadi direktur Lilly Library, salah satu perpustakaan buku langka terbesar di Amerika Serikat yang merupakan bagian dari Indiana University, Breon sendiri sudah lama tidak lagi berminat mencari order menerjemah karya sastra. Namun, dia langsung berminat ketika tawaran yang terakhir datang kepadanya itu adalah tawaran menerjemahkan The Trial dan The Tin Drum.
Namun, muncul dilema karena penerjemah pertama The Tin Drum, Ralph Manheim, adalah seorang sahabat karib Breon selama 7 tahun terakhir masa hidupnya. Dan Breon sendiri terlihat sangat menghargai terjemahan versi Ralph Manheim. Waktu mendapat kabar bahwa The Tin Drum akan diterjemahkan ulang, dan penerjemahnya adalah Breon Mitchell, istri almarhum Manheim langsung menelpon Breon dan bilang, “Kenapa kamu menghianati Ralph?” Mendapat pertanyaan yang tak butuh jawaban itu, Breon segera pesan tiket pesawat dan berangkat ke Cambridge, tempat tinggal Ny. Manheim, dan menjelaskan duduk persoalannya. Alhasil Breon pun bisa mulai mengerjakan penerjemahan buku itu, dan kekagumannya kepada terjemahan versi Manheim terlihat dengan tak henti-hentinya dia gunakan terjemahan Manheim sebagai salah satu sumber utamanya dalam bekerja. Dan Breon pun menulis catatan penyerta di akhir buku yang juga membahas peran karya terjemahan Ralph Manheim dan hal-hal lain yang terkait dengan proses penerjemahannya—mungkin serupa pengantar yang dia buat untuk terjemahan The Trial olehnya yang terbit pada tahun 1999 lalu.
Yang Teknis
Kalau sebelumnya saya menyinggung bahwa banyak detil dari karya Grass yang tak tersampaikan dalam terjemahan Manheim, itu bukan berarti bahwa Manheim adalah penerjemah yang buruk. Terjemahan bahasa Inggris novel The Tin Drum itu bisa dibilang sangat mulus—Breon menyebutnya sebagai 'terjemahan yang indah'. Pembaca sangat bisa menikmati ceritanya novel tersebut dengan membaca terjemahan versi Manheim tersebut. Di sinilah yang menjadi 'masalah'. Dalam bahasa Jerman, novel itu sebenarnya bukan novel yang secara bahasa benar-benar mulus. Ada kalimat-kalimat yang dengan sadar dibuat agak susah. Ada kata-kata yang dibuat dengan pertimbangan bunyi dan ritme. Dan hal-hal yang semacam itu menjadi hilang ketika novel tersebut dihadirkan ke dalam bahasa Inggris yang lancar, yang tentunya menuntut adanya pemenggalan di sana-sini untuk menyingkirkan hal-hal yang dirasa janggal. Padahal, Grass sendiri memendam keinginan pembaca berbahasa Inggris juga merasakan tekstur kebahasaan yang dirasakan para pembaca Jerman.
Uniknya, Breon mensinyalir ada sejumlah faktor di balik hadirnya 'kemulusbacaan' tersebut. Pertama-tama, Günter Grass ketika itu adalah seorang penulis muda yang berusia 30 tahun. Tak bisa dipungkiri, meskipun berusaha bersikap obyektif, pasti ada kecenderungan seorang pembaca—tak terkecuali penerjemah—untuk tidak langsung menggali dalam-dalam karya seorang penulis yang masih muda atau masih pemula. Karena itulah, dalam proses penerjemahan itu penerjemah atau editor cenderung menganggap hal-hal agak ganjil di dalam novel itu sebagai sesuatu yang tidak memiliki signifikansi dan bisa dilewati. Lagipula, pesan yang diusung novel The Tin Drum itu sendiri sudah terasa kuat. Jadi wajar saja penerjemahnya kurang memberi perhatian pada sisi teknis bahasa novel tersebut. Ditambah lagi, sudah bukan rahasia lagi kalau penerbit, yang memberi perhatian besar kepada daya jual sebuah buku—dan ini tidak bisa dibilang salah, karena bagaimanapun ini adalah sebuah bisnis—cenderung menginginkan sebuah novel yang enak dibaca. Maka, jadilah edisi Inggris pertama novel The Tin Drum itu sebuah novel mulus-baca seperti yang bisa kita temui.
Lagipula, Ralph Manheim waktu itu hanya diberi penerbit waktu menerjemahkan selama 6 bulan!
Dengan tujuan menghidupkan detil-detil yang ingin ditampilkan Günter Grass itu, Breon Mitchell pun memulai proses penerjemahan dari awal—dengan kesadaran sepenuhnya bahwa dirinya sedang menerjemahkan sebuah karya pemenang Nobel, karya yang banyak dibahas oleh para sarjana sastra, karya yang tak hanya isi ceritanya tapi juga bentuk bahasaannya juga dibuat dengan pertimbangan masak. Breon mengaku sudah menyukai novel The Tin Drum itu sejak pertama kali dia membaca edisi Jerman-nya ketika novel itu baru diterbitkan. Bahkan, dia menganggap The Tin Drum itu adalah novel berbahasa Jerman paling penting selama paruh kedua abad ke-20. Meski demikian, Breon masih membutuhkan buku-buku referensi untuk membantunya menerjemahkan novel tersebut. Referensi itu mencakup terjemahan karya Ralph Manheim dan buku-buku telaah kritis yang telah ditulis banyak sarjana atas buku tersebut. Di sini Breon mengembalikan lagi kalimat-kalimat panjang Grass yang telah 'dicacah' Manheim menjadi kalimat-kalimat pendek yang lebih akrab bagi pembaca berbahasa Inggris. Grass sendiri agak keberatan kalimat-kalimat panjang yang menurutnya memiliki ritme khusus itu dicacah sedemikian rupa oleh Manheim dengan alasan lebih mengakrabkan bahasanya bagi pembaca berbahasa Inggris. Sebab, menurut dia, bahkan pembaca berbahasa Jerman pun juga merasakan semacam ketidaknyamanan dengan kalimat-kalimat panjang itu. Dan dia juga ingin pembaca bahasa Inggris merasakan hal yang kurang lebih sama dengan yang dirasakan para pembaca Jerman. Dengan bekal cinta dan 'amunisi' semacam itu, Breon menerjemahkan The Tin Drum sambil bisa memperhatikan hal-hal renik yang penting, dan tentunya menghadirkannya kepada pembaca berbahasa Inggris dengan penguasaan seni penerjemahan yang terasah selama puluhan tahun.
Untungnya, Breon mendapat waktu tiga tahun untuk menyelesaikan terjemahan tersebut...
Ada satu pernyataan Breon Mitchell, yang dia sampaikan dalam diskusi dan pembacaan The Tin Drum di Goethe Institute New York pada tahun 2005, yang kiranya perlu dikutip di sini: “Sebagai teks, buku ini sangat kaya. Saya berani bilang tidak akan pernah ada yang bisa menerjemahkannya hingga seratus persen. Namun yang penting menurut saya adalah si penerjemah harus menyadari bahwa di situ ada masalah, dan bertanya 'Terus bagaimana kita menyiasatinya? Apa yang bisa kita lakukan?' Ada kalanya kami tidak bisa mendapatkan jawabannya.”
Yang Unik
Satu hal yang menarik di balik penerjemahan The Tin Drum ini adalah bentuk kolaborasi antara sastrawan dan penerjemah. Günter Grass dan penerbitnya rupanya ingin 'merayakan' 50 tahun penerbitan The Tin Drum secara besar-besaran, yaitu dengan penerjemahan (termasuk penerjemahan ulang) novel ini ke dalam 10 bahasa untuk diterbitkan pada tahun 2009 lalu. Tidak hanya itu, Günter Grass kali ini tidak mau 'kecolongan' seperti yang terjadi dengan terjemahan karya Manheim. Dia mengundang 10 penerjemah yang sedang menggarap The Tin Drum untuk menyatukan visi di Gdansk, sebuah kota di Polandia.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama seminggu itu, menurut Breon sebagai salah satu peserta, para penerjemah menyerahkan pertanyaan/komentar terkait kalimat-kalimat dalam novel yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan di antara mereka. Dari kesepuluh penerjemah itu, terkumpul sekitar 3500 poin pertanyaan/komentar. Selama seminggu itu, Grass dan 10 penerjemah ini mengadakan konferensi yang berlangsung antara pukul 9 pagi sampai 5 sore, persis seperti orang kantoran. Mereka membaca novel itu dan membahas poin-poin pertanyaan dari para penerjemah. Selain itu, Günter Grass sendiri menyoroti bagian-bagian yang menurutnya penting untuk dijadikan perhatian para penerjemah. Pembacaan dengan sumber yang seperti itu semakin diperkuat lagi dengan 'napak tilas' ke tempat-tempat yang menjadi latar novel tersebut dengan dipandu oleh Günter Grass sendiri yang menunjukkan benda-benda, bangunan, dan sebagainya, yang diacu juga dalam novel itu.
Ini mengingatkan kita tentang hubungan erat antara sastrawan Argentina Jorge Louis Borges dengan penerjemah 'resminya', Norman Thomas di Giovanni, yang menghabiskan banyak waktu bersama-sama dan membahas tuntas karya-karya Borges yang sedang diterjemahkan.
Ada proses yang unik di sini. Di satu sisi si penerjemah seolah-olah 'tak lebih dari sekedar' mengantarkan apa yang ingin disampaikan si penulis ke bahasa yang berbeda. Seolah-olah, si penerjemah membiarkan egonya melebur dan menyerahkan diri sepenuhnya mengalihbahasakan apa yang diinginkan si penulis. Si penerjemah benar-benar mengekang dirinya menafsir dengan semaunya sendiri. Sebaliknya, dia sepenuhnya tunduk kepada teks dan si pencipta teks. Seolah mereka bersinergi, kembali ke masa sebelum buku aslinya diterbitkan.
Dengan begini, tidak penting lagi yang namanya 'penghianatan', sebuah tema yang kerap diusung para penerjemah atau pengkritik penerjemahan. Yang ada hanyalah bersama-sama masuk ke dalam pikiran si sastrawan dan mencoba mengikuti apa yang dimaksud si sastrawan ketika dia sedang menciptakan novel itu—meskipun tak bisa diingkari bisa saja yang dia ceritakan kepada para penerjemah ini bisa-bisa berbeda dengan perasaan si penulis ketika menulis karya tersebut.
Namun, demi menyadari kemustahilan mencari padanan untuk setiap hal yang ada dalam bahasa Jerman ke dalam bahasa-bahasa lain dunia, Grass juga memberi kebebasan kepada para penerjemahnya untuk berkreasi terkait dengan hal-hal tersebut. Di sini tampak ada yang perlu diperhatikan, yaitu 'penghianatan' itu hanya bisa terjadi pada tahap pembahasaan, sementara pada tahap pemahaman isi karya, penerjemah dituntut selaras dengan si sastrawan.
Demikianlah, meskipun penerjemahan ulang bukanlah sesuatu yang harus dilakukan atas karya-karya yang terjemahannya sudah usang, ternyata banyak yang bisa dipelajari dari situ. Selain itu, sepertinya para penerjemah Indonesia juga harus mengikuti langkah yang ditempuh Breon, yaitu membaca habis-habisan karya sekunder yang mendukung pemahaman pembaca atas karya sastra yang sedang digarap. Tapi, lagi-lagi muncul pertanyaan, apakah memungkinkan melakukan penerjemahan yang 'doyan' seperti itu dengan upah penerjemahan seperti yang ada di pasaran seperti sekarang ini.
The Tin Drum edisi peringatan ulang tahun emas ini telah diluncurkan pada bulan Oktober tahun 2009. Breon merampungkan detil terjemahannya tersebut di tengah kesibukannya membimbing para calon doktor dan mengelola Lilly Library. Oh ya, dia juga langsung bergairah ketika tahu bahwa ada dua karya sastra penting Indonesia yang mengambil latar kota tempat tinggalnya, yaitu kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington dan novel Olenka, dan otomatis langsung menyatakan keinginannya untuk mendapatkan buku-buku tersebut buat perpustakaan manuskrip dan buku langka yang dipimpinnya.
OPINI
MERESENSI DAN MENGOLEKSI BUKU
Oleh: Sidik Nugroho
Mengenai Resensi Buku
Iqbal Dawami, Nur Mursidi, dan Hernadi Tanzil, menurutku adalah orang-orang yang beruntung karena sering mendapat buku gratis dari penerbit. Aku terhitung jarang. Sejak resensiku atas buku Ma Yan karya Sanie B. Kuncoro dimuat Jawa Pos pada tanggal 22 Maret lalu, aku hanya mendapat satu buku gratis yang dikirim langsung oleh penerbitnya: Mata Keenam, terbitan Gloria Graffa. Aku sudah meminta kiriman buku gratis dari beberapa penerbit, beberapa membalas dan berjanji mengirim. Tapi, ah... manusia kan banyak yang suka lupa. Biasa itu.
Namun, puji Tuhan, resensiku atas buku Mata Keenam nongol di koran Sinar Harapan. Sebelumnya, di Sinar Harapan juga, resensiku atas buku karya Arie Saptaji yang berjudul Pacaran Asyik dan Cerdas yang nongol duluan. Jadi, begitulah perjalananku meresensi buku sepanjang tahun ini. Ada belasan resensi buku yang kubuat, namun baru tiga buah yang menjebol koran.
Semakin sering aku menulis resensi, semakin terasa manfaatnya bagiku, dan juga bagi penulis buku yang kita resensi -- bila ia membaca resensi itu. Menulis resensi bukan semata-mata agar dimuat koran, dan lalu mendapat uang. Ini adalah suatu upaya mengapresiasi secara wajar sebuah karya dengan memberikan pujian, kritik, masukan dan berbagai sudut pandang; sekaligus melatih-mengasah kemampuan menulis, utamanya dalam menganalisa suatu karya.
Di dua bulan terakhir ini (Desember 2009 dan Januari 2010), aku berencana meresensi empat buah buku saja:
1. Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi,
2. I Can (Not) Hear karya Feby Indirani dan San Wirakusuma,
3. Amira and Three Cups of Tea karya Greg Mortenson, dan
4. Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com yang dieditori P. Chusnato Sukiman.
Karena sepanjang Desember pekerjaan di sekolah tempat aku mengajar sangat banyak (Ujian Akhir Semester, pengolahan nilai dan pembagian rapot, dan persiapan acara Natal), hanya satu dari empat buku yang hendak kuresensi tadi yang baru sempat kubaca -- itu pun belum tuntas: I Can (Not) Hear.
Mengenai Koleksi Buku
Sejak dulu, aku merasa bukan seorang kolektor. Aku masih ingat ketika ada di sebuah gereja yang kecil dan tidak punya banyak buku pengajaran dan bacaan. Gereja Anugerah Pembaharuan namanya. Waktu itu aku masih kuliah. Tanpa pikir panjang, kusumbang semua buku dan kaset rohani yang kumiliki untuk gereja yang melas dan mungil itu. Buku yang kusumbangkan lebih dari empat puluh buah dan kaset yang kusumbangkan lebih dari dua puluh buah.
Padahal, buku dan kaset-kaset itu kubeli dari hasil pekerjaanku yang kujalani sambil kuliah. Waktu itu aku bekerja memberi les privat, jualan telur puyuh matang ke beberapa warung kopi, dan sesekali menulis cerpen (beberapa tulisanku nyantol di majalah-majalah keren dan gaul seperti GFresh!, Sahabat Pena dan AnekaYess!).
Saat aku bekerja, hal yang sama terulangi lagi. Aku memiliki bujet 100 sampai 150 ribu per bulan untuk membeli buku. Buku-buku yang kubeli sejak kuliah, ditambah dengan yang kudapat saat bekerja, membuat lemari bukuku yang ada di Malang tidak cukup lagi. Akhirnya beberapa buku kubawa ke Sidoarjo, ke tempat kosku. Teman-teman kos pada heran ketika suatu waktu aku pindah kos dengan sebuah angkot yang penuh berisi barang. Di antara barang-barang itu, yang terbanyak adalah buku. Ada sekitar dua ratus buku yang aku bawa.
Karena hal ini, lemari yang disediakan ibu kos untuk menaruh pakaian, malah jadi lemari buku. Pakaianku beberapa kugantung di dinding pakai hanger dan paku. Bulan demi bulan berlalu, lemariku itu makin penuh dengan buku yang kubeli. Buku pun bertumpuk-tumpuk di lantai kamar kosku. Sampai akhirnya aku membuat keputusan menyumbangkan lebih dari tiga puluh bukuku untuk sekolah tempat aku mengajar, dan memberikan beberapa buku kepada beberapa teman.
Jujur, tidak semua buku yang kubeli kubaca sampai tuntas. Aku pembaca yang malas, bukan pembaca yang tekun. Kalau kuperkirakan, hanya sekitar 70 persen buku yang sudah kubeli yang kubaca tuntas. Kerap kali, aku memutuskan membeli buku -- termasuk yang kemudian lalai kubaca setelah kumiliki -- dengan alasan utama: takut kehabisan.
Kini, ketika melihat lagi buku-buku yang bertumpuk di samping mejaku, aku merenung lagi: perlukah sebenarnya mengoleksi buku? Ini kutanyakan karena buku kadang dapat memberikan sebuah kenangan tersendiri. Contohnya, aku tidak akan lupa ketika membaca dengan penuh penghayatan serial Lord of the Rings hingga tak sadar subuh sudah datang.
Namun, ada kalanya aku juga merasa bersalah kalau mendiamkan sebuah buku yang kuanggap bagus hanya tegak tak bergerak dalam lemariku -- sementara ada teman yang kutahu benar memerlukannya. Dan kadang, ada pula cerita lain: teman yang meminjam bukuku menghilangkannya. Kurasa, cukup banyak masalah bisa datang ketika kita berniat mengoleksi buku, namun juga mempunyai banyak teman yang suka membaca (dan meminjam) buku.
Nah, hingga akhir tahun ini, aku pun masih belum kepikiran membuat sebuah perpustakaan kecil untukku sendiri suatu ketika. Aku bukan perawat buku yang baik. Bila kurasa aku tidak memerlukan lagi sebuah buku, ya kuberikan saja kepada orang yang kuanggap akan menyukai buku itu.
Tapi, mungkin, insya Allah, suatu hari nanti, perpustakaan kecil itu kubangun. Dengan sepenuh cinta... hihihi.
OPINI
MARI MENABUNG
Oleh: Fikrul Akbar Alamsyah
Banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari menabung, karena menabung itu tidak sekedar menyisihkan atau menyimpan sebagian uang, menabung itu :
1. Belajar mengelola uang
2. Belajar menahan diri
3. Berhati-hati dengan uang
4. Membiasakan diri berhemat
5. Menghargai barang
6. Bersikap Mandiri
Pada poin pertama, dituliskan belajar mengelola uang. Seperti yang dikatakan pepatah bahwasanya hidup adalah proses begitu juga dengan perjalanan hidup kita yang tidak hanya berhenti di hari ini atau esok saja, akan tetapi masih berlanjut sampai waktu yang hanya Allah SWT saja yg tau sampai kapan akan berakhir. Sehingga pengelolaan uang dibutuhkan adanya untuk mencukupi kebutuhan yang suatu saat akan datang baik yang terencana atau tidak.
Pada poin kedua, dituliskan belajar menahan diri. "Menahan diri" sebuah perkataan yang sering didengungkan akhir-akhir ini, apalagi saat bulan ramadhan seperti ini. Menahan diri pada hakikatnya bukan menghilangkan kebutuhan diri atau membuang jauh-jauh rasa ingin, akan tetapi menahan diri adalah menahan keinginan yang dirasa tidak terlalu dibutuhkan, menahan kebutuhan tersier dan mendahulukan yang primer.
Pada poin ketiga, dituliskan berhati-hati dengan uang. Berhati-hati dengan uang berarti tidak dengan mudahnya mengeluarkan uang hanya untuk kebutuhan atau keinginan yang belum pasti dan belum jelas fungsi dan gunanya. Karena sesungguhnya masih banyak kaum/golongan yang hidup serba berkekurangan, sehingga layaklah jika qta berhati-hati dengan uang dan menggunakan dengan semestinya.
Pada poin keempat, dituliskan membiasakan diri berhemat. Seperti kata pepatah hemat pangkal kaya, karena keberhasilan seseorang harus diusahakan begitu juga dengan sukses dibdang finansial, perlu diusahakan salah satu caranya dengan berhemat.
Pada poin kelima, dicantumkan menghargai barang. Menghargai barang bukanlah mencintai barang dengan cara berlebih. Menghargai barang mengandung nilai penghargaan terhadap usaha dan proses saat akan meraih barang itu, sehingga tidak tertanam budaya instan yg berorientasi pada hasil.
Pada poin keenam, dituliskan bersikap mandiri. Kemandirian suatu bangsa bukan tergantung pada kebijakan pemerintahnya akan tetapi pada individunya, dalam hal ini qta komponen bangsa terkecil.Oleh sebab itu mandiri merupakan sikap yg dibutuhkan dlm rangka pembentukan karakter bangsa.
Mari menabung..
OPINI
PERANG DI MATA ANAK-ANAK - SEBUAH KISAH SENDU DALAM FILM KARYA SINEAS IRAK
Oleh: Sidik Nugroho
Saya mengira sedang menyewa sebuah film anak-anak yang lucu. Judulnya menarik: Turtles Can Fly.
Judul Film: Film Lakposhtha Parvaz mikonand (Turtles Can Fly).
Sutradara dan Skenario: Bahman Ghobadi.
Aktor: Soran Ebrahim, Avaz Latif, Saddam Hossein Feysal, Hiresh Feysal Rahman, Abdol Rahman Karim, Ajil Zibari.
Tahun: 2004.
Ketika menontonnya, segera saya menyukai Satellite, tokoh utama di film ini yang sangat ceriwis, penuh semangat, dan ambisius. Dan ketika menyimaknya terus, karakter Satellite yang terkesan kocak itu sangat kontras dengan apa yang hendak disampaikan film ini. Film ini menampilkan simbol-simbol kedukaan yang dalam dan pedih tentang negeri yang tak luput dirundung perang.
Turtles Can Fly adalah sebuah film asal Irak yang berusaha memotret kehidupan anak-anak yang menjadi pengungsi pada masa Saddam Husein ditangkap. Kisahnya fiktif, namun berdaya-gugah luar biasa. Kisahnya berpangkal pada seorang anak yang dijuluki Satellite oleh orang-orang di sekitarnya, yang sehari-harinya bekerja sebagai pengumpul ranjau. Ia dijuluki demikian karena tampak mahir pada hal-hal yang berhubungan dengan teknologi.
Ranjau-ranjau yang dikumpulkan di tempat tinggal anak itu -- yakni di sebuah tempat pengungsian -- sangatlah banyak. Hampir tiap hari Satellite mengerahkan puluhan anak untuk bekerja memungut ranjau-ranjau itu. Ranjau-ranjau itu sangat berbahaya. Bila diinjak bisa meledak -- bisa bikin kaki lumpuh atau buntung.
Sebuah bagian yang menarik dari film ini adalah kisah tentang kehadiran seorang anak kecil yang belum genap berusia tiga tahun. Ia datang bersama dua kakak-beradik. Seorang dari mereka adalah lelaki kecil yang tak punya dua tangan. Yang seorang lain adalah wanita, adik laki-laki buntung itu; ia selalu memasang wajah muram. Sementara anak kecil ini bukan siapa-siapa mereka berdua. Mereka menemukannya sedang merintih perih waktu pasukan Amerika sedang membombardir sebuah perumahan penduduk Irak. Oleh kemurahan hati kedua kakak-beradik itu, akhirnya si anak kecil turut dibawa ke mana-mana.
Suatu ketika si anak kecil terjebak di antara beberapa ranjau di sekitarnya. Adegan yang menegangkan pun disuguhkan: Satellite akan menolong anak itu. Ia berteriak-teriak memohon anak itu agar tak bergerak sedikit pun, karena sebuah ranjau yang ada di dekatnya dapat menghabisi nyawanya, satu kali saja ia salah injak. Saat ia berteriak-teriak, beberapa anak yang lain pun menangis pilu. Ranjau yang membahayakan itu, salah terinjak sedikit saja, meledaklah dia. Dan... darrr! Ranjau itu meledak, lalu menghantam kaki Satellite.
Anak-anak sebenarnya menakuti perang, walau mungkin mereka suka menonton film perang. Turtles Can Fly menyingkapkan dengan telak bagaimana sebuah perang mengubah kehidupan jiwa anak-anak. Penulis naskah (sekaligus sutradara) film ini patut diacungi jempol. Film ini menghadirkan berbagai adegan lucu, yang, namun, di balik semua kelucuan itu tersimpanlah duka yang mendalam akibat kehilangan, kelaparan, dendam dan peperangan.
Satellite yang menyukai Amerika dengan segala atributnya (ia suka sekali berbahasa Amerika, bergaya seperti orang Amerika, dan menyukai tokoh-tokoh film Amerika) suatu ketika harus melepas segala junjungannya terhadap Amerika ketika intervensi Amerika terhadap kondisi politik di Irak semakin besar. Patung Saddam akhirnya ditumbangkan, dan seorang sahabatnya membawakan bagi Satellite sebuah kaki Saddam yang patah. Sahabatnya itu berkata kalau kaki itu akan mahal bila dijual. Satellite memandang wajah sahabatnya dengan aneh. Ya, ia sendiri baru saja nyaris kehilangan kakinya akibat ledakan ranjau!
Karena ini film berlatar suasana dan waktu perang, maka tentu ada kematian di dalamnya. Satellite pada akhirnya harus merelakan hatinya tercabik-cabik ketika melihat beberapa kematian yang mengerikan dalam hidupnya. Emosi yang terpantik dalam benak saya ketika melihat film ini, membuat saya mengingat sebuah film lain yang berjudul Mean Creek, yang mengisahkan tentang beberapa anak remaja yang pada akhirnya harus menemukan sebuah kenyataan pedih ketika mereka dihadapkan pada sebuah kematian teman mereka.
Tunas-tunas muda, jiwa yang selalu ingin merdeka, yang direnggut oleh maut dari kehidupan ini akibat kebengisan para penguasa, itulah salah satu dampak terburuk sebuah perang. Masa yang seharusnya dilalui dengan keceriaan berganti dengan kemuraman. Anak-anak akan tetap menjadi anak-anak, di mana pun mereka berada di dunia ini. Dan inilah wajah anak-anak yang harapannya bisa pupus seketika akibat berbagai ranjau bernama peperangan. Tawa mereka akan jadi sebuah kenangan yang paling dirindukan di seantero negeri, menjadi inspirasi bagi nyanyian-nyanyian perdamaian, dan kiranya menghantui mimpi-mimpi para penguasa haus darah.
Nah, jadi apa makna judul Turtles Can Fly? Jikalau kura-kura dapat terbang di dalam air, melihat matahari ketika mereka ingin menyembul ke permukaan, maka -- duhai para penguasa! -- para anak-anak ini tak bisa selamanya ditenggelamkan dalam danau berdarah akibat ranjau yang selalu terpasang dan senjata yang selalu terangkat! Turunkan senjata, buang semua ranjau, dan biarkan kami -- para anak-anak -- ini terbang, seperti kura-kura menyambut mentari pengharapan.
Yah, kira-kira, mungkin begitu maksud judul film ini.
OPINI
MENGAPA MENJADI GURU?
Oleh: Etty Hentihu
Sebuah hadis mengatakan, semua amalan tergantung dari niatnya. Makna dari hadis ini adalah, bahwa segala apa yang akan kita lakukan itu tergantung dari niat si pelaku. Kelihatannya sepele dan sering dilupakan orang, tapi justru niat ini adalah urusan yang paling vital. Tak ada gunanya anda mengikuti seminar seminar, segala macam pelatihan yang meningkatkan profesionalisme dalam mengajar, semua workshop diikuti, kalau sebenarnya anda tidak memperdulikan yang namanya niat. Niat inilah yang menjadi landasan untuk selalu bisa semakin maju. Namun perlu disadari bahwa memperbaiki niat bukanlah perkara yang mudah. Berikut gambaran niat ketika seseorang memutuskan untuk menjadi guru:
1.Karena kemampuan akademik
Sudah bukan rahasia lagi di negri kita ini, para mahasiswa yang memiliki prestasi akademik lebih memilih universitas dibandingkan dengan kependidikan. Sehingga seolah olah, jalur kependidikan diperuntukkan bagi mereka mereka yang gagal masuk universitas. Dengan kata lain, yang masuk kependidikan didasari oleh keterbatasan kemampuan akademik. Bisa dikatakan kalau seandainya kemampuan akademik mereka bagus tentunya akan lebih memilih universitas karena selain lebih bergengsi dan memang menjanjikan finansial yang lebih baik bagi lulusannya kelak. Tapi tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang memang berkeinginan untuk menjadi guru walaupun sebenarnya kemampuan akademiknya sangat bagus. Hal ini ada tapi bisa dihitung dengan jari jumlahnya.
2.Karena status
Sampai saat ini status menjadi guru memang masih sangat baik dan terhormat di mata masyarakat terutama guru di daerah pedesaan. Guru dianggap sebagai sosok yang pandai karena guru bukanlah suatu pekerjaan yang membutuhkan otot tapi lebih ke otak. Sehingga profesi guru masih dinggap bergengsi di masyarakat kita.
Meskipun kita semua mengetahui bahwa profesi guru tidaklah memberikan finansial yang besar dan hanya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja, namun begitu masalah status di Indonesia masih sangat diperhatikan orang. Masalah pendapatan guru masih mungkin bisa ditingkatkan karena pekerjaan guru hanya berkisar dari jam tujuh sampai jam satu siang, sehingga masih ada waktu sisa untuk mencari tambahan penghasilan.
3.Karena ada jaminan masa depan
Gaji tetap dan pensiun masih dianggap sebagai sesuatu yang menggiurkan bagi masyarakat Indonesia bagi guru pegawai negeri meskipun untuk menjadi pegawai negeri ada yang harus melakukannya dengan membayar mahal.
Kebergantungan masyarakat kepada status pegawai negeri ini tak jarang menjadikan mereka lebih merasa bergantung kepada kepegawaian mereka dari pada kepada Tuhan, maka berhati hatilah jangan sampai profesi kita melupakan Tuhan yang nenberikan rezeki bagi kita.
4.Karena butuh pekerjaan
Ada juga orang yang berprofesi sebagai guru karena memang sudah melamar pekerjaan kesana kemari tapi yang didapatkannya adalah sebagai guru sehingga jelaslah bahwa profesi guru bukan merupakan tujuan awal. Istilahnya daripada menanggung malu menjadi pengangguran lebih baik menjadi guru meskipun pendapatannya entah sedikit ataupun banyak.
5.Karena guru adalah profesi mulia
Ada segelintir manusia yang menjadi guru karena keinginannya untuk berbuat baik kepada sesama, mungkin istilahnya karena panggilan Nurani. Orang seperti ini masih ada di jaman seperti sekarang ini tapi jumlahnya sangat terbatas. Dia tidak memperdulikan berapa gaji yang ditrimanya, karena tujuan utamanya bukan gaji yang dikejar. Baginya menjadi pegawai tetap atau bukan, itu sama saja. Bahkan ada yang tidak menerima gaji sama sekali tapi dia tetap mengajar setiap hari.
Fenomena ini berbeda sekali dengan yang menerima gaji utuh tiap bulannya tapi tidak setiap hari mengajar bahkan mungkin mengajar seminggu hanya dua atau tiga kali saja. Beberapa guru (baca : Dosen) ada yang seperti ini. Gaji tetap diterima penuh sementara mereka sibuk mengurusi proyek luar dan membiarkan waktu mengajarnya kosong tanpa diganti hari lain.
6.Saatnya memperbaiki niat dan tujuan
Kalau membicarakan profesionalisme maka poin terbesarnya adalah masalah motivasi dalam menjalankan profesi tersebut. Semakin kuat dan besar motivasi seseorang maka akan semakin baik dalam menjalankan pekerjaannya.
Tulisan ini bukan hendak mengkritik apalagi mencela mereka yang mencari kedudukan, status dan kesejahteraan untuk berprofesi menjadi guru. Itu adalah hak masing masing untuk menetukan jalan hidup asalkan tidak menganiaya hak hak orang lain. Akan tetapi tulisan ini hanya untuk mengajak memperhatikan mereka yang benar benar mengorbankan sebagianb besar waktunya untuk mendidik dan mengentaskan masyarakat dari kebodohan. Sumbangsih mereka sangat besar bagi dunia pendidikan. So, bagaimana dengan niat anda menjadi guru?
OPINI
PRODUKTIVITAS DAN PUBLISITAS
Oleh: Sidik Nugroho
Stephen King, penulis horor dan thriller tenar itu, saya dapati
menyinggung soal produktivitas dan publisitas dalam dua bukunya. Buku
pertama adalah memoarnya yang berjudul On Writing. Di sana ia berkisah
pernah mengirimkan sebuah karya yang ditolak oleh sebuah majalah
besar. Setelah punya cukup nama dengan menerbitkan beberapa karya
lain, karya yang sama ia coba-coba kirim ke majalah yang sama. Eh, dimuat.
Buku lain yang saya dapati menyinggung hal yang sama adalah novelnya yang berjudul Bag of Bones. Di sini, tokoh utamanya, Michael Noonan, adalah seorang novelis yang diminta oleh sebuah penerbit untuk
menerbitkan karyanya berkala. Nah, suatu ketika Michael kelimpungan
merampungkan novel. Ia lalu mengirimkan novel usang yang sudah
mendekam di laci selama 12 tahun dan belum diterbitkan! Diterima, dan
bahkan karya itu dipuji penerbit!
Penulis muda mana pun saya rasa pernah stres dengan penolakan. Karena profesi penulis sedikit mendapatkan tekanan dan dukungan dari luar,
tak sedikit penulis muda yang akhirnya putus asa dan mundur.
"Berkaryalah terus," kata Pramoedya Ananta Toer, sastrawan tenar itu,
"dan jangan pikirkan karyamu kelak diterbitkan atau tidak." Pramoedya
sendiri semasa hidupnya berpeluang kecil untuk mempublikasikan karyanya.
Bagi kita yang bukan penulis, baiknya juga belajar hal yang penting di
sini bahwa produktivitas adalah sesuatu yang lebih utama dibandingkan
publisitas. Yang terakhir kita dapatkan setelah memiliki yang pertama
dalam kadar tinggi.
OPINI
GURU ITU SUTRADARA JUGA
Oleh: Lutfi Fadila
Menjadi seorang guru harus bisa menjadi seorang sutradara amatir juga. Aku tak pernah berpikir untuk menyatukan dua profesi tersebut menjadi satu, tapi yach, nyatanya aku harus melakukannya juga. Meskipun dengan hati berdebar-debar, antara mau tak mau dan sebuah keharusan, toh, akhirnya aku bberada di penghujung kewajiban itu. Melatih anak-anak didikku untuk bermain drama di hadapan orang tua mereka.
Sejak pertama kali diterima menjadi guru freelance di saec aku dikejutkan dengan jadwal pengajaranku. Diantara empat bulan masa pendidikan mereka satu level, anak-anak harus diajak outing (pergi mengaplikasikan bahasa inggris mereka di luar kelas dan sekolah) dan yang kedua adalah performance atau pertunjukan kemampuan bahasa inggris siswa dihadapan orangtua murid dengan latihan sekitar tiga atau empat kali pertemuan. Awalnya dag-dig dug menerima tugas seperti itu. Bahkan sampai saat ini aku masih berdebar karena selasa besok adalah performance pertama yang akan aku tunjukkan.
Aku merasa tak siap dengan acara performance sampai akhirnya tanggal di jadwal perhitunganku menunjukkan aku harus membuat script pertunjukan dan berlatih dengan anak didikku yang berjumlah 12 anak sekolah dasar. Bayangkan 12 adalah jumlah terbesar di saec. Jumlah tersebut seharus menjadi dua kelas tapi karena guru terdahulu keluar bertepatan aku memasuki minggu-minggu pertama jadi kelasku yang semula berjumlah 6orang bertambah dua kali lipatnya.
Masalah utama mengadakan latihan drama bersama kelas besar adalah kegaduhan yang mereka buat bisa mengganggu kelas yang sedang berlangsung disekitar kami. Masing-masing murid senang berceloteh dan bermain dengan teman kesayangan mereka. Fokus, bagi anak SD mungkin sulit tapi ya bagaimana lagi namanya anak SD juga tidak bisa disalahkan, baligh-pun mereka belum. Mau marah ya tidak bisa kecuali membuat peraturan ketat agar mereka mau berlatih. Alhamdulillah-nya mereka mau berlatih 2x dalam waktu 1,5 jam, meski untuk menghafalkan script mereka sedikit kesulitan karena lebih suka mengobrol bersama teman sebaya daripada diam mengamati teman yang sedang berlatih.
Mengajarkan irama lagu juga menimbulkan kelucuan tersendiri. Masing-masing anak sering juga kelupaan dengan iramanya sehingga menciptakan irama sendiri-sendiri yang terasa lucu ditelinga.
Ada juga yang irama lagunya mudah dihafalkan tetapi mereka membuat iramanya menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Wah, wah.. suatu hal yang sungguh membuat latihan pertunjukkan tersebut rada kacau. Tetapi sekali lagi, mereka tahu kapan harus serius, yaitu ketika saya mulai mengancam mereka tidak boleh pulang sebelum latihan drama mereka cukup baik hasilnya.
Anak-anak, mereka belajar sambil berlatih, berlatih sambil bermain, bermain sambil bersenda-gurau, bersenda-gurau sambil sesekali diingatkan untuk bisa serius mencapai tujuan bersama menyukseskan pertunjukan drama dihadapan orangtua masing-masing.
Pas hari H pertunjukan, rasa dag-dig-dug kucoba peram dengan melihat performance anak-anak yang telah siap sedia di hadapan bangku penonton meski mereka hanya melakukan latihan 3 kali dalam 3x pertemuan. Kubandingakan dengan awal pertunjukan tim drama waktu kuliah. Kami takkan pernah berani dan siap menghadapi penonton jika tidak melakukan dua bulan penuh latihan.
Semangat anak-anak memang diluar dugaan. Hasil pertunjukkan pertamaku menjadi sutradara cukup mengesankan. Head teacher skaligus the owner-nya yang paham dengan kerisauan guru baru berkomentar, “Wow, you could handle them well. My last performance was messier than this. Congratulation.”
Hehe.. si bos yang pengertian.
OPINI
MENERJEMAHKAN DENGAN HATI
Oleh: Sidik Nugroho
Wanita itu, bahkan mungkin kita semua, tentunya bisa putus harapan ketika dokter memberi vonis: dalam tubuh ada kanker paru-paru stadium IIIB, dan usia hidup tinggal 4-6 bulan lagi.
Vonis itu merupakan hasil dari apa yang dialami wanita itu sejak awal Agustus 2004, bahkan sebelumnya. Di awal Agustus 2004, ia sedang mandi ketika merasakan sakit di bagian dada. Di hari-hari berikutnya ia menjalani serangkaian pemeriksaan medis yang bikin nyali ciut: semua bukti medis tampak memupuskan harapannya untuk terus bertahan hidup. Namun, ia tak kehilangan iman. Ia terus menaruh harapan pada Tuhan, berdoa dan mengharapkan mukjizat. Saat ia mengalami penyakit ini, baik buku dan film serial Harry Potter sedang meraup sukses di banyak negara.
Satu bulan berlalu, sepertiga rambutnya ambrol. Namun, tak lama setelah itu, mukjizat terjadi: ia disembuhkan Tuhan dengan cara ajaib. Wanita itu, Listiana Srisanti namanya, telah mengalami pertolongan Tuhan.
Listiana yang menerjemahkan serial Harry Potter dan beberapa buku terbitan Gramedia, memang dikenal sebagai salah satu penerjemah yang terbaik. Bahkan, ketika Memoar Seorang Geisha karya Arthur Golden diterjemahkan oleh Listiana, Arswendo Atmowiloto menyatakan: "... terjemahan Listiana jauh lebih menyentuh daripada buku aslinya. Mungkin Listiana mampu menghayati roh perempuan yang rapuh secara utuh ..."
Bila kita pernah membaca buku Geisha itu (cetakan pertama tahun 2002), dengan lirih diuraikan penderitaan jiwa seorang wanita yang tak berdaya akibat didera berbagai kesengsaraan hidup. Sebuah keadaan yang tampaknya juga mewakili kondisi jiwa-raga Listiana sebelum ia mengalami sakit yang mengerikan.
Seorang manusia yang rapuh dengan penyakit mengerikan, telah melakukan sesuatu yang tak dilakukan manusia-manusia yang merasa dirinya normal atau bahkan superior. Listiana menerjemahkan dengan hatinya, sehingga apa yang ia lakukan juga menjamah hati orang lain. Ia terus berkarya, namun tetap menjiwai apa yang ia lakukan dengan kepasrahan penuh pada Yang Ilahi.
Dalam ketidakberdayaan dan keterbatasan, acapkali kekuatan Ilahi yang lebih besar menolong kita untuk bisa melakukan sesuatu yang menjadi bagian atau pekerjaan kita. Dan, jikalau kita tetap bertekun, niscaya semua yang kita lakukan berakhir dan berbuah indah.
Catatan: Matur nuwun untuk Pak Sumardianta atas kisah Listiana Srisanti dalam bukunya yang berjudul Simply Amazing.
INFO
PELUANG MENULIS BUKU ILMIAH NON FIKSI
Oleh: Tim editor Forum Penulis Kota Malang
Kabar gembira bagi teman-teman penulis dan peneliti (khususnya di area Malang raya dan Jawa Timur), Forum Penulis Kota Malang kini dipercaya sebagai agen penampung naskah untuk buku-buku non fiksi yang bakal diterbitkan Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Bagi teman-teman yang tertarik untuk menulis buku non fiksi dengan tema-tema seputar motivasi, buku hobi, buku-buku how to manajemen dan pengelolaan usaha kecil dan menengah, atau naskah buku yang mengupas peluang-peluang usaha dengan modal kecil tapi untung besar (lengkap dengan perhitungan analisis kelayakan usaha), bisa mengirimkan naskah softcopy dengan ketentuan:
1. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2. Memperhatikan kaidah-kaidah penulisan, tanda baca, dan struktur kalimat yang baik, teratur, dan mudah dipahami, namun tidak meninggalkan unsur kajian ilmiah.
3. Diketik dengan jenis ukuran font 12, times new roman, 1,5 spasi, dengan format A4, dengan format RTF (jangan doc atau odt).
4. Jumlah halaman naskah, minimal 100 halaman.
5. Isi naskah merupakan gabungan antara hasil penelitian dan pengamatan, wawancara, studi pustaka dan ditulis dengan cara penyajian yang ringan, mudah dipahami, namun tetap memperhatikan kaidah ilmiah.
6. Tuliskan pada halaman terakhir naskah Anda riwayat hidup singkat serta riwayat prestasi tulisan Anda yang pernah dimuat di media surat kabar atau majalah. Bila Anda pernah menulis buku sebelumnya dan pernah diterbitkan oleh penerbit tertentu, sebutkan pula judul buku, tahun terbit dan nama penerbitnya.
7. Kirimkan naskah berupa softcopy ke alamat email: naskahgramedia@gmail.com . Jangan lupa sertakan nama lengkap (jangan nama samaran), alamat rumah lengkap, nomor KTP, nomor NPWP, nomor rekening bank dan alamat bank, serta nomor telepon/ponsel yang bisa dihubungi.
Naskah yang masuk akan dinilai oleh tim editor Forum Penulis Kota Malang. Bagi naskah yang layak terbit, namun membutuhkan revisi atau penyempurnaan, akan diberitahukan letak kekurangannya. Akan lebih baik bila setelah Anda mengirimkan naskah, Anda berkonsultasi secara langsung dengan Forum Penulis Kota Malang pada saat pertemuan rutin FPKM yang diselenggarakan setiap 2 minggu sekali (lihat jadwal pertemuan di
http://klipingfpkm.multiply.com). Seleksi naskah berlangsung cukup ketat, dan hanya naskah-naskah yang baik kualitas isi maupun cara penyajian dan penulisannya yang akan dipertimbangkan untuk diajukan kepada editor senior Penerbit Gramedia Pustaka Utama di Jakarta. Bila naskah Anda pada seleksi akhir dinilai cukup layak untuk terbit oleh rapat dewan redaksi Penerbit Gramedia Pustaka Utama, maka naskah yang terpilih akan dibuatkan surat kontrak penulisan yang akan dikirimkan ke alamat si penulis naskah untuk selanjutnya ditandatangani. Setelah menandatangani surat kontrak penulisan (bila naskah Anda disetujui untuk diterbitkan), selambat-lambatnya 2 bulan setelah penandatanganan surat kontrak penulisan, Anda sudah harus mengirimkan naskah lengkap berupa softcopy, maupun foto-foto pendukung dalam bentuk CD atau DVD ke redaksi non fiksi Penerbit Gramedia Pustaka Utama di Jakarta. Pengiriman softcopy maupun hardcopy hendaknya dibungkus rapi dalam kemasan plastik dan dimasukkan ke dalam amplop tertutup, kemudian dipaketkan menggunakan jasa kurir TIKI ke alamat Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Prosedur dan aturan serta informasi selanjutnya akan diberitahukan kemudian oleh pihak penerbit di Jakarta.
Semua konsultasi dan tanya jawab tentang naskah tidak dipungut biaya alias gratis. Forum Penulis Kota Malang hanya berperan sebagai literary agent (agen penampung dan penyalur naskah), keputusan akhir tetap berada pada hasil keputusan rapat redaksi editor non fiksi dan departemen marketing Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
CERITA PENDEK
EKSPEDISI
Oleh: Haryo Bagus Handoko
Suara dahan dan ranting berderak-derak, diiringi suara angin yang mendengung-dengung keras. Petir menggelegar bersahut-sahutan. Bunyinya sungguh memekakkan telinga. Sudah tiga jam hujan badai ini berlangsung. Tubuhku menggigil kedinginan. Basah kuyup. Perjalananku menembus hutan belantara ini tak kunjung berakhir. Hutan ini demikian luas. Untunglah aku menemukan gua ini, walau letaknya agak tersembunyi. Walau sedikit terlambat, karena tubuhku sudah terlanjur basah kuyup, namun setidaknya aku bisa berteduh sejenak sambil melepas lelah di tengah hujan badai ini. Di luar, hari sudah gelap. Sosok-sosok pepohonan hutan tak ubahnya bagaikan sosok-sosok raksasa mengerikan yang tinggi menjulang. Suasana begitu senyap. Yang terdengar hanyalah suara hujan dan sesekali diiringi oleh petir menggelegar yang bersahut-sahutan. Kembali aku menggigil. Malam ini begitu dingin.
Aku berusaha menggosok-gosokkan telapak tanganku ke kedua lenganku agar sedikit lebih hangat. Jaketku yang basah sudah aku lepaskan sejak tadi. Pelan-pelan aku meraba dalam gelap, mencari lampu senter yang kusimpan di dalam tas ranselku. Oh, syukurlah masih bisa hidup walau dalam keadaan basah. Kusorotkan cahaya senterku ke berbagai arah. Gua ini ternyata begitu luas dan besar. Tampak stalagtit-stalagtit berukuran besar di sana-sini. Lantai gua tidaklah datar namun cenderung menurun dan cukup terjal. Pelan-pelan aku melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong gua sambil sesekali menyalakan korek api, siapa tahu cadangan oksigen tidak banyak dalam gua ini. Ternyata nyala api tetap menyala-nyala di ujung pemantik apiku. Jadi kupikir aku aman-aman saja. Lorong ini tak kunjung berakhir dan bahkan kutemui begitu banyak persimpangan ke lorong-lorong yang lebih sempit. Daripada tersesat, kuputuskan untuk kembali saja ke tempat dimana aku tadi duduk-duduk di dekat mulut gua. Dengan sedikit malas, kulangkahkan kakiku kembali menuju tempat yang tadi.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil-manggilku. Makin lama suaranya makin keras dan menggaung. Pantulan suaranya terdengar bersahut-sahutan. Aku terhenyak kaget. Buru-buru aku nyalakan lampu senterku dan kusorotkan ke berbagai arah. Tidak ada siapa-siapa. Lalu dari mana arah suara itu. Ataukah semua ini hanyalah sekedar ilusi saja. Bulu kudukku merinding. Mungkinkah suara wanita yang memanggil-manggilku itu adalah suara penunggu gua ini. Langsung saja aku berlari meninggalkan tempat itu, menuju ke dekat pintu masuk gua. Syukurlah aku masih ingat jalan menuju tempat itu dan tidak tersesat. Kuselonjorkan kakiku yang letih saat aku duduk bersandar di dinding gua. Karena capek akhirnya aku terlelap. Entah sudah berapa lama aku tertidur, saat kudengar seseorang memanggil-manggil namaku. Suara itu terdengar sangat jauh dan samar-samar. Kucoba membuka mataku. Rasanya berat sekali. Tidak! Pasti suara itu hanyalah sekedar imajinasiku saja, atau mungkin aku sedang bermimpi. Kucoba untuk tidak menghiraukan suara itu. Aku kembali terlelap untuk beberapa saat. Semuanya serba gelap. Aku seakan mati suri.
Tubuhku memang sangat letih setelah seharian menjelajahi hutan belantara bumi Papua ini. Semuanya diawali oleh proyek penelitian tanaman langka yang sedang aku teliti bersama teman-temanku. Mungkin tanaman itu adalah salah satu dari sekian banyak tanaman purba yang masih hidup lestari hingga sekarang setelah berjuta tahun mengalami evolusi. Akhirnya kami berlima pun berangkat ke Papua. Aku dan keempat temanku yang semuanya peneliti. Berminggu-minggu kami menjelajahi sudut-sudut hutan belantara yang ada di Papua. Rombongan kami ditemani oleh tiga orang pemandu jalan. Sekedar berjaga-jaga agar kami tidak tersesat. Namun belum juga menemukan tanaman langka yang kami cari. Rencananya kami akan mencatat setiap detil morfologi maupun berbagai aspek kajian fisiologi tanaman langka tersebut begitu kami menemukannya. Kalau saja tadi aku tidak memisahkan diri dari rombonganku, tentu aku tidak akan tersesat seperti ini. Semakin masuk ke dalam hutan, semakin besar kemungkinan untuk tersesat bila tidak tahu jalan. Telepon satelit yang aku bawa dalam tas ranselku tampaknya sudah rusak akibat kemasukan air hujan. Maka lengkaplah penderitaanku. Tersesat tanpa alat komunikasi sebagai satu-satunya penyelamat hidupku. Untunglah aku menemukan gua ini, sehingga aku bisa berteduh.
Tiba-tiba kudengar lagi suara pria yang memanggil-manggil namaku. Kali ini suara itu terdengar lebih dari satu. Mereka memanggil namaku beramai-ramai. Tapi entah suara itu berasal dari mana. Kulihat di sekelilingku. Tidak ada seorang pun di sana. Lalu darimana datangnya suara-suara itu. Tiba-tiba tubuhku dan sekelilingku berguncang. Suara-suara itu semakin keras terdengar. Guncangan itu semakin keras, dan tiba-tiba dadaku serasa sesak seperti dihantam oleh sebuah benda berat dengan kecepatan tinggi. Aku jatuh terlentang. Benda apakah itu, yang menghantam dadaku demikian keras? Belum sempat aku bangkit, dadaku kembali dihantam oleh benda berat itu. Kali ini seluruh tubuhku serasa bergetar dan seperti dialiri listrik yang menjalar ke setiap pembuluh darahku. Kepalaku pening, serasa dipukul oleh sebuah palu godam yang cukup besar. Tiba-tiba terdengar lagi suara-suara itu. Makin lama makin keras.
"Ayo bangun kawan! Bernapaslah!"
"Ya, Tuhan semoga belum terlambat!"
"Kita ulangi lagi. Satu, dua, tiga!"
Tubuhku kembali bergoncang. Sesuatu itu kembali menghantam dadaku demikian keras. Kepalaku pening. Kali ini aku merasakan sesuatu yang aneh di sekujur tubuhku. Darahku serasa bagaikan mengalir kembali ke setiap pembuluh darahku. Kembali terdengar suara-suara itu yang semakin keras terdengar.
"Har, bangun! Ayolah teman, sadarlah!"
"Jangan menyerah, teman. Hidup ini masih indah. Masih banyak yang harus kita lakukan bersama-sama!"
"Sepertinya mulai ada respon!"
"Lihatlah, bola matanya bergerak-gerak!"
Tiba-tiba pipiku terasa panas, seperti ditampar berulang kali.
"Ayo bangun!"
"Har, bangunlah! Jangan seperti ini!"
"Lihat, dia mulai sadar!"
Pelan-pelan kubuka mataku. Kepalaku masih terasa pening. Cahaya lampu yang menyilaukan menyoroti mataku.
"Di manakah aku?" gumamku.
"Syukurlah akhirnya kau sadar juga! Kau berada di rumah sakit, teman! Untunglah semuanya belum terlambat saat kami menemukanmu!" kata Kukuh, salah satu rekanku yang juga turut menyertaiku dalam ekspedisi Papua kali ini.
"Kaukah itu, Kukuh?" jawabku lemah.
"Ya, ini aku, teman," katanya kemudian. "Di sini juga ada David, Sismanto, dan juga Muchlis, teman-teman kita dalam ekspedisi Papua ini. Juga ada Bu dokter Lutfi yang tadi berulang kali berusaha menyadarkanmu dengan alat pacu jantung saat jantungmu berhenti berdenyut."
"Oh, itukah yang terjadi?" tanyaku lemah. "Mengapa aku bisa berada di sini?"
"Ceritanya panjang. Nanti saja aku ceritakan. Sekarang sebaiknya kau beristirahat dulu beberapa saat," kata David sambil mengedipkan mata kepada yang lain agar tidak terlalu banyak berkata-kata.
Aku pun kembali tidur. Kali ini aku bermimpi tentang lembah subur nan hijau yang dipenuhi kupu-kupu. Kali ini suasana terasa begitu damai. Tidak ada lagi suara-suara aneh. Tubuhku tidak lagi menggigil seperti tadi. Cukup lama aku tertidur, hingga aku terbangun keesokan harinya akibat sinar matahari pagi yang menerpa wajahku.
"Selamat pagi," sapa seorang suster cantik yang saat itu datang untuk memeriksa tekanan darahku dengan menggunakan tensimeter dan stetoskop. "Syukurlah kondisi Anda sudah membaik, Pak Haryo."
"Apa yang terjadi hingga aku bisa berada di rumah sakit ini?" tanyaku.
Suster itu hanya tersenyum. "Biarlah teman-teman Anda saja yang menceritakannya pada Anda."
Wanita itu tampak serius mencatat sesuatu dalam buku jurnal kecilnya. Mungkin catatan harian perkembangan kesehatan pasien, demikian pikirku. Di lengan kiriku tertancap jarum dan selang infus. Apa yang terjadi padaku, pikirku bingung. Mengapa aku bisa berada di rumah sakit ini.
Suster cantik itu pun mengangguk sambil tersenyum dan berkata,"Nah, itu teman-teman Anda sudah datang. Sebaiknya saya mengunjungi pasien-pasien yang lain. Saya senang, Anda akhirnya bisa pulih kembali, walau masih harus banyak beristirahat."
Suster itu pun melangkah pergi. Di balik pintu terlihat teman-temanku. Mereka tampak berseri-seri dan terlihat lega.
"Syukurlah kau akhirnya sadar juga! Kami ketakutan setengah mati!" kata Sismanto yang langsung mengacak-acak rambutku dengan gayanya yang kocak.
"Dua hari koma dan tak sadarkan diri. Sungguh mengerikan!" sahut Muchlis mengomentari.
"Dua hari ? Selama itukah aku mengalami koma ?" tanyaku seakan tak percaya.
"Ya. Saat perjalanan itu, kami kebingungan saat tiba-tiba kau menghilang dari rombongan kami. Akhirnya kami pun memutuskan untuk mencarimu hingga ketemu. Tiga hari kami mencarimu tanpa kenal lelah, hingga akhirnya kami berhasil menemukan tanaman purba itu, sekaligus menemukanmu dalam kondisi mengenaskan!" jelas Sismanto.
"Sangat mengenaskan!" sahut David menyambung perkataan Sismanto.
"Tubuhmu penuh berlumuran lendir berwarna kuning. Mungkin itu semacam getah yang menimbulkan efek tidak sadar dan mengakibatkan halusinasi. Tangan dan kakimu dibelit oleh cabang dan sulur-suluran tanaman purba itu. Kau berada di semacam lubang celah yang merupakan mulut dari tanaman anggrek purba berukuran raksasa itu. Tampaknya tanaman purba itu berusaha mencerna tubuhmu perlahan-lahan dengan getah kuning menyerupai lendir yang juga menimbulkan efek halusinasi. Lihatlah luka-luka di sekujur tubuhmu. Selain berusaha mencerna tubuhmu hidup-hidup, tanaman purba itu juga menghisap darahmu pelan-pelan dengan sulur-suluran dan cabang-cabang tanaman itu yang memiliki tipe seperti mulut penghisap. Itulah sebabnya tubuhmu menggigil kedinginan dan akhirnya tidak sadarkan diri."
Aku hanya terpana mendengar penjelasan panjang David.
"Jadi akhirnya ekspedisi kita berhasil menemukan tanaman anggrek purba itu?" tanyaku seakan tak percaya.
"Ya, dan kau hampir saja menjadi santapannya, kalau kami tidak segera menemukanmu," sahut Sismanto dengan ekspresi wajah sedikit ngeri.
"Tanaman anggrek purba itu berbentuk menyerupai tanaman kantong semar, hanya bentuknya sedikit berbeda, berukuran cukup besar, lebih besar dari manusia, dan berada di dekat tanah sehingga lebih mudah menangkap mangsa. Cabang dan sulur-sulurannya cukup banyak dan tampaknya itulah yang membelit tubuhmu. Untunglah kami membawa gergaji elektrik sehingga dengan mudah kami menyelamatkanmu dengan membunuh tanaman itu terlebih dulu. Dan syukurlah kami cukup berhati-hati sehingga kami tidak menjadi mangsa berikutnya dari tanaman-tanaman purba yang hidup secara berkelompok di hutan pedalaman Papua ini," jelas Kukuh.
"Untung ada lebih dari satu tanaman yang masih hidup, sehingga nanti masih bisa diteliti lebih lanjut. Kami telah mengirimkan potongan-potongan spesimen tanaman yang mati ke kantor pusat riset kita sebagai bukti, dan mereka tampak sangat gembira dengan keberhasilan ekspedisi ini. Tim lain sedang menuju ke sini untuk meneruskan pengamatan dan penelitian lanjutan mengenai spesies langka tanaman purba ini."
Semuanya mengangguk mengiyakan.
"Yang penting, akhirnya kita semua selamat!" kata David.
"Ya, itulah yang terpenting. Apa gunanya ekspedisi kita berhasil kalau kita harus kehilangan seorang sahabat," sahut Muchlis.
"Sahabat?" tanyaku.
"Maksudnya itu kamu, tolol!" kata Sismanto sambil bergurau.
Yang lain hanya tertawa. Aku pun tertawa kecut sambil mengenang bahwa nyawaku hampir saja melayang gara-gara ekspedisi nekad ini.
CERITA PENDEK
SUARA-SUARA ITU
Oleh: Lutfi Fadila
Latif berpikir dia mengalami gangguan otak serius. Setiap kali memasuki kamarnya dan merebahkan diri, didengarnya lamat-lamat suara dari alam bawah sadarnya.
“Aku terpajang di koran. Skripsi pasti bisa dibukukan!”
Awalnya dia mengira itu sebuah lamunan mimpi. Tapi tidak mungkin sebuah mimpi terus berulang membayang kesehariannya. Tiap pagi, siang, malam, suara-suara itu mengganggu ketenangan istirahatnya. Acap kali membaca, merenung, menulis, suara-suara itu membuyarkan konsentrasinya. Pikirannya jadi terpecah, tak terarah sampai yang ditemuinya hanyalah coretan-coretan kosong. Berlembar-lembar makianlah yang mampu dia tuangkan sebagai peredam kekesalan.
Latif berpikir kejadian ini sudah terlalu parah. Dia mencoba berganti kamar dengan tetangga kamar kosnya untuk sekedar meluruskan simpul-simpul otak. Alasan yang diberikannya kepada Feri hanya karena dia ingin ganti suasana. Jika dia memberitahukan alasan sesungguhnya, temannya itu pasti menganggapnya harus sesegera mungkin mendapatkan penanganan profesional dokter jiwa.
Ketika memulai meditasi di kamar Feri pada malam hari, memang suara-suara itu tidak terdengar. Suasana menjadi sangat tenang, tanpa dengungan suara dan mampu mengantarnya pada alam mimpi yang melenakan. Namun kebisuan ruang itu malah melemahkan debar jantungnya, memperlambat desiran darah di sekujur tubuhnya yang telentang tak beraktivitas. Dia merasa ada yang salah dengan ruang itu. Bungkamnya kata-kata yang biasa menyerbu setiap sudut kamarnya seperti membunuh ruang gerak otak dan melumpuhkan gerak syaraf jari tangannya yang biasa menari di atas robekan-robekan kertas yang meski sering kali berakhir di ujung meja dan tersebar di lantai kamar.
Belum tamat sinar pucat purnama membelah langit, Latif sudah kembali merenung dalam kamarnya sendiri yang penuh tempelan koran, tabloid dan majalah. Dipandanginya setiap senti dinding yang penuh ketikan namanya di pojok kanan bawah atau di bawah judul masing-masing artikel, cerpen serta resensi yang pernah dia tulis dan dimuat di koran. Dengan jengkel sekaligus bertanya-tanya, dia rebah dan menyimak suara-suara yang mau tidak mau dia paksa untuk akrab di telinganya.
Sejak tiga tahun yang lalu dia mulai ketagihan dalam kegiatan tulis menulis dan dengan membabi buta menempel-nempelkan guntingan koran yang memuat karyanya. Selain untuk menyemarakkan kamarnya yang terlalu didominasi warna putih, dengan sedikit narsis dia ingin menunjukkan kepada dirinya sendiri bahwa dia ada karena menulis. Dengan begitu, semangat menulisnya akan terus terpacu dalam setiap hirupan kata-kata yang mengalir menuju otak dan meneruskannya ke ujung jari-jemarinya. Dan dia menyadari, tepat sebulan yang lalu suara-suara itu semakin parah menggelitik kuping dan membakar ubun-ubun. Biar bagaimanapun, suara itu tidak asal berbisik kosong, namun mengandung ejekan tajam.
Menurut jadwal kalender akademiknya, sudah dua tahun yang lalu seharusnya dia telah menyelesaikan skripsi, wisuda, menenteng ijasah, dan bekerja di perusahaan bergengsi seperti teman-teman seangkatannya. Namun, saat ini gelar mahasiswa masih disandangnya karena sebuah tugas yang belum terjamah: skripsi.
Tapi dia tidak pernah ambil pusing ketika ditanya teman-teman lama maupun adik-adik tingkatnya tentang apa kegiatannya saat ini. Jawaban entengnya adalah, “Aku menulis. Kalian tunggu saja nanti karya-karya masterpiece-ku!”. Ketika dirong-rong orang rumah kapan lulusnya, dia berkelit, “Sebagai mahasiswa itu enak, aku sering masuk koran.”
Jika diamati dari kebanyakan guntingan koran miliknya, rubrik suara mahasiswa dan kolom aktivis-lah yang saling berjejalan di dinding, memamerkan nama penulis dengan embel-embel universitas bergengsi tempatnya kuliah.
Namun mulai tiga bulan yang lalu, kegundahan merayapi benaknya. Jika terus menerus menempelkan gelar mahasiswa di belakang namanya selama tiga tahunan ini, para editor akan mencap-nya sebagai mahasiswa abadi. Dan itu bukan gelar yang cukup membanggakan. Itulah mengapa dia mulai mensubtitusi gelar di belakang namanya dengan kata aktivis, penulis lepas, atau embel-embel umum lainnya dalam tulisan-tulisannya.
Kegundahannya hingga kini semakin menjadi-jadi, tulisannya tidak sesering dulu dimuat, honorpun semakin seret. Pikirannya melayang pada masa depan yang tampak suram. Skripsi mandeg, ijasah belum punya, pun bayang-bayang DO tidak bisa dihindarkan. Latif makin dalam termenung dalam kamarnya dan meresapi bisikan-bisikan yang mulai mengontaminasi otaknya.
“Aku terpajang di koran. Skripsi pasti bisa dibukukan!”
Latif melonjak terduduk, seakan didatangi seratus dosen pembimbing yang siap menginvestigasi.
“Skripsi…skripsi…apa untungnya menulis skripsi untukku? Dibuat buku pun tak akan laku!” bisiknya geram sambil mengepalkan kedua tangannya hingga menonjolkan vena dan arteri di punggung dan pergelangan tanggannya.
“Pak Nanang!” Sekali lagi dia melonjak. Namun kali ini lonjakannya antara senang dan ragu seperti seorang penulis yang telah menandatangani kontrak dari penerbit. Dia bergegas menuju kampus dengan tujuan bertemu dosen pembimbing yang sudah satu setengah tahun dia asingkan.
Pukul setengah satu siang, kampus masih ramai, tapi ruang dosen sepi. Kebanyakan masih ishoma.
Ketika berjalan ke kantin untuk mencari-cari adakah teman-teman seangkatannya yang masih berkeliaran di situ, beruntung dia bertemu Pak Nanang yang sedang melihat daftar menu pesanan.
“Pak Nanang, punya waktu sebentar?”
“Latif, mana skripsimu?” sapa dosen muda yang cuek dan baru punya anak satu yang katanya lucu sekaligus nakal itu, serta merta setelah melihat penampakan Latif yang tiba-tiba.
“Masih dalam proses, Pak,” Latif berkilah.
“Males tenan kamu itu,” gurau Pak Nanang membuat Latif tersenyum kecut, “Kalau mau bereksperimen tentang tulisan yang hendak kau geluti, nanti saja kalau sudah lulus. Lebih bebas dan banyak waktu untuk mengejar idealismemu.”
Latif tersedak liurnya sendiri karena komentar Pak Nanang yang menyentil kegelisahannya. Dia juga tau dosen pembimbingnya itu lebih berpengalaman soal ilmu coba-coba karena memang beliau amat suka bereksperimen dalam bidang pendidikan. Sebagai seorang yang telah memiliki gelar Sarjana Sastra, dia berhasil mencoba peruntungan eksperimentasinya ketika mengejar gelar Master di bidang Komputer.
Sekarang pun dia sedang terobsesi membuat penelitian-penelitian yang hendak dia ajukan sebagai syarat mengejar program Doktoral, entah untuk bidang lain apa lagi.
“Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan, Pak. Berkenaan tentang skripsi juga,” Latif terdiam sejenak mencari kata-kata yang sopan namun langsung menuju topik yang disinggungnya, “Saya benar-benar bingung, gunanya membuat skripsi itu apa, to Pak?”
Pak Nanang tersenyum lebar, “Begitu saja kok bingung, Latif! Skripsi itu sebagai tugas akhir yang pengerjaannya bersifat ilmiah. Tujuannya ya untuk mengilmiahkan pikiran calon intelektual muda dalam kehidupan nyata. Bagaimana berpikir rapi merumuskan masalah, menciptakan tujuan, dan melangkah sesuai kerangka pikir realistis.”
“Sepertinya kok, terdengar teoretis dan kurang riil. Bagaimana kalau saya usul skripsi diganti menulis novel saja, Pak? Dalam bidang sastra, mahasiswa akan lebih tertantang menulis novel daripada membuat sebuah penelitian yang tidak terlihat manfaatnya. Kalau dalam bentuk novel, bisa dibukukan dan menghasilkan uang. Lumayan Pak, untuk biaya nikah!” Latif berargumentasi dengan semangat membara ketika menemukan sebuah tujuan untuk menulis
Pak Nanang tidak tertawa. Sorot matanya tampak serius, malah.
“Ada pikiran bahwa karya kreatif populer berbeda dengan karya ilmiah. Sampai tahap tertentu mungkin benar,” Pak Nanang berucap pelan-pelan mengeluarkan pemikirannya atas pertanyaan mahasiswa yang mungkin belum pernah dia dengar sebelumnya, “sebaliknya saya berpikir bahwa karya ilmiah sampai tahap tertentu juga merupakan hasil kreatifitas. Interpretasi dan penilaian atas karya sastra sama subyektifnya dan subversifnya dengan karya itu sendiri. Betul tidak?”
Latif tidak menggeleng ataupun mengiyakan pernyataan Pak Nanang. Otaknya masih mencoba mencerna perkataan dosen antik di depannya yang masih terus berlanjut.
“Letak skripsi menjadi penting, karena itu adalah langkah awal untuk bisa membedah sebuah karya secara kritis. Kemampuan menengarai ini akan membantu kamu jadi penulis yang baik nantinya. Kita tidak akan pernah membuat sebuah karya yang baik tanpa keterampilan membaca dan interpretasi yang cukup. Jadi, tulislah skripsi dan adaptasi gaya kamu memahaminya. Jika analisismu nanti sudah selesai, bisa juga kamu permak menjadi sebuah karya tulis populer.”
Latif melongo. Dia kehilangan banyak kata untuk berargumentasi. Sebagian dari dirinya menganggap upayanya tadi meminta persetujuan membuat skripsi dalam bentuk yang lebih dia kuasai, gagal total. Tapi sebagian darinya yang lain meresapi kata-kata yang diucapkan dosennya itu.
Ketika kembali memenjarakan diri di kamar, pertarungan di otaknya tak dapat dielakkan. Di satu sisi dia ingin menjadi penulis yang bisa menulis di segala jenis tulisan. Di sisi lain dia merasa kesulitan membuat tulisan ilmiah.
Dia memilin otak bagaimana caranya menyelesaikan skripsi tanpa banyak terbentur teori ilmiah yang memusingkan. Kisikan dunia luar yang serba instan mulai menggoyahkan batin untuk mencari jalan pintas. Dia teringat tawaran dari tetangga kos yang tampak sangat menggiurkan, pesan skripsi sekarang besok langsung seminar. Dia menimbang-nimbang tawaran itu.
Namun suara-suara dari dinding kamarnya masih terus merajam gendang. Kenyataan bahwa dia sedang meniti karir sebagai seorang penulis, membuyarkan tawaran tersebut. Bagaimana mungkin seorang penulis tidak mampu menulis skripsinya sendiri!
Latif bergeming menatap proposal skripsinya dua tahun yang lalu. Suara-suara itu malah semakin menusuk-nusuk didengar, membuatnya jadi frustrasi. Otaknya buntu tanpa lubang setitik lampu. Tangannya terlalu kaku untuk menggenggam pena menorehkan sebaris analisa. Tetapi suara-suara itu tetap nyaring bergema mendidihkan ubun-ubunnya.
“DIAM SEMUA!” jerit Latif menggila. Telinganya dia sumbat dengan jari-jari telunjuk menciptakan senyap.
Sebelum sempat dia mengatur nafasnya, kembali terdengar dzikir rancak mengikuti alunan degup jantungnya, skripsi…skripsi…skripsi…
CERITA PENDEK
KERUDUNG UNTUK CUCUKU
Oleh: Sidik Nugroho
Sebenarnya aku berharap mati di Mekah. Tapi, di sinilah aku berada: di bandara Juanda. Ya, aku kembali ke tanah airku! Dari bandara Juanda aku menuju ke Malang, kotaku. Sebenarnya, bisa dikata, tidak ada lagi yang kurindukan di kota Malang. Istriku telah tiada, anak-anakku telah berpencaran ke luar kota. Hari-hariku kerap dirundung sepi.
Namun, di Malang, aku beruntung memiliki seorang cucu yang sangat sayang padaku. Ia tinggal denganku. Usianya baru 9 tahun, namun ia sangat lemah-lembut dan murah hati. Ayahnya, yang adalah anakku, bekerja di Sidoarjo. Ia seminggu sekali baru pulang ke Malang. Istrinya, ibu cucuku itu, telah meninggal tiga tahun lalu.
Tiap sore aku mengantar cucuku ke masjid dekat rumah. Ia suka sekali mengaji. Sebenarnya bisa saja ia berangkat dengan kawan-kawannya berjalan kaki, namun aku suka melihat bibirnya komat-kamit menyuarakan ayat-ayat suci Qur'an dari teras masjid. Daripada aku menonton tivi di rumah yang menyiarkan berita dan acara pembikin pusing, aku memutuskan untuk menemani cucuku.
Aku amat menyesal begitu mendapat keputusan ada dua koperku yang tidak diikutkan dalam bagasi pesawat yang membawaku pulang dari Mekah. Ya, sebabnya aku telah kelebihan muatan. Di antara semua barang yang termuat di salah satu koper itu, aku paling menyesal tak membawa sebuah kerudung untuk cucuku: kerudung berwarna biru muda, dengan renda-renda putih dan ungu berbentuk bunga yang cantik di sepanjang tepiannya.
Sebelum berangkat ke Mekah, aku berjanji membawa oleh-oleh hanya untuk satu orang saja. Aku telah berjanji membawakan kerudung dari Mekah untuk cucuku. Matanya berbinar demi mendengar kata-kata "kerudung dari Mekah". Tampaknya, tiga kata itu ajaib benar baginya. Suatu ketika ia berkata padaku, "Kek, kata guru ngajiku, ada kemuliaan di Mekah; ada rasa haus dan lapar akan Allah di sana."
Aku manggut-manggut, mengiyakan apa yang ia katakan. "Kemuliaan", "rasa haus dan lapar", tampaknya menjadi kata-kata yang benar-benar menawan benak cucu kecilku itu.
***
Tapi aduh... sayang sekali! Cucuku itu..., ah, kerudung untuknya itu, tertinggal! Aku begitu susah mengusir gelisah yang menaungi batinku di hari-hari yang kulewati di tanah air ini setelah kembali dari Mekah. Kerudung terbaik yang kupilihkan untuknya, bagaimana ya nasibnya kini? Aku sering menyesali: Kenapa tidak kumasukkan saja kerudung itu dalam tas yang selalu kutenteng ke mana-mana? Kenapa ia kusatukan dengan air zam-zam, kurma, dan beberapa oleh-oleh lain yang tidak penting di koper itu?
Ah! Kenapa aku makin pikun? Kenapa aku begitu bodoh... kenapa aku makin tua? Hatiku didera pilu ketika melihat cemberut di wajah cucuku selama beberapa hari karena kealpaanku.
Mekah yang kurindukan menjadi pelabuhan terakhirku tak kesampaian. Aku didaulat oleh Allah untuk kembali ke tanah air. Dan harapan terbesarku kembali lagi di sini dari sana hanyalah melihat cucuku itu berkerudung dengan kerudung bawaanku. Harapan itu pupus. Mungkin, aku orang tua yang picik. Namun inilah aku, dan itulah harapanku.
***
Cucuku tertidur pulas malam ini. Ia sudah tak pernah cemberut lagi.
Anakku, ayah cucuku itu, baru saja datang dari Sidoarjo. Ia kuatir dengan kondisi kesehatanku. "Besok kita ke dokter ya, Pak. Sudah tiga minggu sejak pulang dari tanah suci, kalau aku di sini, Bapak kelihatannya jarang tidur kalau malam, dan terus-menerus batuk."
Aku hanya diam menanggapi usulnya. Aku berdehem kecil, berupaya menghilangkan kegamangan yang kurasa merambat di udara sekitar kami duduk.
"Sudahlah, Pak. Kerudung untuk Tanti tidak usah dipikirkan lagi. Dia sudah tidak mempersoalkannya kok. Bapak bisa membelikan kerudung yang...."
"Ehhhmmm... ehhhmmm...!" Kusuarakan batukku dengan keras. Anakku tahu, kalau sudah begitu, tandanya aku tak mau mendengar apa pun yang ia katakan.
Namun, aduh, batukku ini, makin lama kok makin keras sih? Aku rasa aku harus berhenti bercerita sebentar.
***
"Allahu akbar... Allahu akbar...." Suara adzan menggema dengan nyaring dan khidmat. Aku memasang telinga untuk suara-suara lain yang mungkin terdengar di sekelilingku. Aku membuka mataku perlahan-lahan. Oh, tak ada orang di sini!
"Allahu akbar... Allahu akbar...." Lho, ternyata, aku sedang mendengar suaraku sendiri! Aku sedang menggemakan adzan.
Dan aku kini berada di dalam ruangan masjid yang selalu kutandangi tiap sore. Masjid yang sepi. Tak ada seorang pun di sana, kecuali aku. Aku melanjutkan mengumandangkan adzan.
Dan kemudian aku mendengar sebuah suara langkah kaki ketika adzan usai.
Aku menoleh ke belakang.
Cucuku! Ia memakai kerudung biru muda itu! "Tanti... cucuku!"
Aku tak bisa melangkah menggapai dirinya yang kini sedang hendak duduk lalu membuka Qur'an.
"Tanti..., Tan...."
Aku pun bersujud, memohon kepada Allah agar diperkenankan menjamah dan memeluk cucuku itu. Ia terus mengaji, mengucapkan dan melantunkan ayat-ayat suci dengan suara mungilnya yang bening.
Setelah selesai, ia menutup Qur'an itu, lalu memandangi lukisan Ka'bah yang ada di salah satu dinding masjid. "Allahu akbar. Rasa haus dan lapar akan Allah, dan kemuliaan, semoga kakek selalu memilikinya, ya Allah...."
Aku yang kini sedang bersujud sambil mencoba merangkak, mulai terbujur kaku. Beberapa kejap, sekali lagi kulihat lukisan Ka'bah yang megah itu sebelum mataku tertutup. Dengan cara yang sulit kujelaskan, aku seperti dibawa masuk ke dalam lukisan itu. Dan kemudian...
: Aku ditakdirkan untuk berhenti bercerita.
Komentar FPKM: "Salut buat Mas Sidik yang memiliki empati dan rasa toleransi tinggi antar umat beragama. Mas Sidik yang beragama Nasrani, mampu membuat karya cerpen bernuansa Islami yang demikian menyentuh kalbu. Andai di negeri ini ada banyak orang seperti Mas Sidik yang memiliki rasa toleransi, solidaritas dan empati yang tinggi antar umat beragama, tentu Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang lebih baik, negeri dengan paham demokrasi Pancasila yang dipenuhi jiwa dan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang pluralis, multikulturalis, tentram dan damai."
PUISI
KOMPROMI
Oleh: David Ardyanto
Betapa berat terbang dengan sayap kejujuran
Betapa resah tidur berselimut kesalahan
Namun apa yang hendak kita lakukan selain kompromi dengan mereka?
Karena mereka adalah jaring yang biasa kita gunakan untuk menangkap ikan-ikan
Semua telah ditataNya dengan baik
Hanya ketidakmengertian dan keterbatasan kita hingga menganggapnya sebagai hal yang kurang baik
Sang Penata punya pekerjanya sendiri yang tak meminta satu sen pun bayaran atas apa yang telah ia lakukan
Tak ada yang dapat kita diskusikan dengan para pekerjaNya, karena mereka terlalu profesional untuk sebuah kompromi
Maka,
kitalah yang harus berkompromi dengan diri sendiri atas segala sesuatu yang telah ditataNya...
Kabut berselimut
Malam kian pekat
Berbaringlah dengan kelembutan....
PUISI
MERAIH
Oleh: Fikrul Akbar Alamsyah
Buai malam, genggam aku segera
Selimuti aku dengan dinginmu
Agar aku menemui esok yang lebih cerah
Dan bisa bergerak seperti sedia kala
Menjalani waktu
Menjalani hari
Dan tak ingin untuk berhenti
Bersama terus memacu
Tunjukkan arti sebuah kata
Tak berarti tanpa usaha
Tunjukkan sebuah usaha
Tak berarti tanpa kata-kata
Keduanya saling berhubungan
Dan juga saling berkaitan
Tak bisa jika hanya usaha
Karena kan tak jelas akan kemana
Buai malam
Beri aku belainmu
Tunjukkan aku bintangmu
Agar aku segera tertidur dan menjalani mimpi bersamamu
Memuali awal dan semangat yang baru
Meraih cita dan asa tanpa ragu-ragu
PUISI
SIMPANG TIGA
Oleh: Sidik Nugroho
jalan remang
kesunyian
menjalarkan resah
di benak dan kaki
di kaki langit ini
kueja lagi
segala...
jejak-langkah
PUISI
PERENUNGAN
Oleh: Haryo Bagus Handoko
Tak alang kepalang aku mengkerut dahi
Merenung tajam menembus pekatnya malam
Sunyi sepi gelap pekat
Ku susuri alam pikiranku
Menjenguk relung-relung lipatan otakku
Menyusuri jejak-jejak memori
Merenung sekali lagi
Adakah sesuatu yang belum pernah terlintas
Adakah sesuatu hal baru
Adakah suatu ide unik
Adakah realitas yang belum kuungkap
Aku berpikir keras
Merenung tajam mengerang
Otakku berdenyut
Cairan darah melumasi setiap relungnya
Membasahi setiap syaraf
Menggugah munculnya ide dan nalar
Otakku berdenyut keras
Sekelebat menampakkan ide-ide hebat
Menggedor jantungku agar bersemangat
Menggedor setiap kesadaranku
Aku harus menghasilkan tulisan malam ini
Setidaknya sebuah ide untuk kutulis
Demikian kerasnya perenungan malam ini
Akhirnya kutemukan juga ide cemerlang
Untuk artikel tulisanku bulan depan
STOP PRESS
Kunjungi situs resmi dan blog Forum Penulis Kota Malang (FPKM) serta forum diskusi komunitas ini di internet.
http://www.fpkm.co.cchttp://forumpenuliskotamalang.blogspot.com http://klipingfpkm.multiply.comhttp://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/Berbagai informasi terkini dunia kepenulisan dapat Anda akses dengan mudah di situs kami. Kesempatan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai berbagai aspek dunia kepenulisan terbuka seluas-luasnya di forum diskusi komunitas kami. Anda bisa bergabung dengan cara mendaftarkan alamat e-mail Anda di Yahoo Group untuk memperoleh fasilitas kemudahan berdiskusi secara online. Cukup ketik link url ini di browser komputer Anda saat Anda terhubung ke internet, dan nikmati kemudahan akses informasi dan tanya jawab dengan sesama anggota komunitas ini.
http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/joinForum Penulis Kota Malang juga dengan senang hati menerima bantuan dan sumbangan materi, sponsorship, pendanaan, sumbangan berupa, buku-buku terbitan terbaru (untuk keperluan bedah buku), majalah kesusasteraan, majalah fiksi, buku-buku bekas terbitan Indonesia maupun manca Negara, sumbangan berupa CD kosong, sumbangan berupa pulsa telepon isi ulang, kertas HVS kosong, maupun peralatan tulis lainnya untuk kelangsungan organisasi kami. Segala bantuan dan dukungan dari Anda akan sangat kami hargai.
Forum Penulis Kota Malang juga mengundang para pengusaha untuk mensponsori berbagai event kegiatan kami dan tentunya dengan adanya event-event yang kami selenggarakan, pihak sponsor bisa mempunyai kesempatan untuk mengiklankan dan memperkenalkan produk-produknya kepada masyarakat luas dalam berbagai event kegiatan yang kami selenggarakan.
FPKM (FORUM PENULIS KOTA MALANG) - KOMUNITAS PENULIS KREATIF DARI KOTA MALANG
Oleh : Haryo Bagus Handoko*)
*) Penulis adalah pengurus komunitas FPKM selaku bagian informasi dan dokumentasi, selain profesinya sebagai penulis kreatif dan penulis fiksi.
Di saat begitu banyak bermunculannya komunitas penulis di negeri ini, kota Malang yang terkenal pula sebagai kota pelajar tidak mau kalah. Pada beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan Oktober 2006, telah berdiri sebuah komunitas penulis di kota Malang, Jawa Timur, yang bernama FPKM (Forum Penulis Kota Malang). Forum Penulis Kota Malang (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang. Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang. Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang - Jl. Raya Ijen 30A - Malang, forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini.
Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini. Dengan anggota yang beragam yang umumnya berprofesi sebagai penulis, maupun profesi lain (dosen, wartawan, seniman, pelajar SMP hingga mahasiswa), komunitas ini tampil dengan ciri khas tersendiri yang kaya akan ide tanpa batas. Hal ini karena dengan beragamnya latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun profesi para anggotanya menjadikan beragam pula daya kreativitas, ide, maupun hasil tulisan yang menghiasi berbagai media cetak dan majalah tanah air. Beberapa karya anggota komunitas ini bahkan sudah berkali-kali terbit dalam bentuk novel fiksi, hingga buku bertema religi. Para anggota komunitas ini secara aktif selalu mengikuti berbagai lomba kepenulisan yang diselenggarakan baik oleh komunitas lain maupun lembaga penerbitan dan lembaga pendidikan di negeri ini.
Forum Penulis Kota Malang juga hadir di dunia maya dengan adanya situs dan blog maupun mailing list. Situs dan blog Forum Penulis Kota Malang bukan hanya melulu diperuntukkan untuk sesama anggota intern FPKM, namun juga diharapkan sebagai sarana tukar menukar informasi antar berbagai komunitas penulis di berbagai daerah di tanah air. Suatu acara atau even kegiatan yang diselenggarakan oleh suatu komunitas penulis di suatu daerah diharapkan bisa diketahui pula oleh komunitas penulis di daerah yang lain. Untuk itulah maka Forum Penulis Kota Malang juga melengkapi dirinya dengan fasilitas mailing list yang diharapkan bisa menampung berbagai informasi dan juga sebagai sarana diskusi interaktif di dunia maya antar berbagai komunitas penulis dan juga sarana pembelajaran dan tukar menukar pikiran di antara sesama penulis.
Interaksi secara korespondensi maupun mengakses berbagai informasi terbaru bisa dilakukan melalui berbagai situs weblog pribadi para anggota dan pengurus komunitas ini. Berbagai link yang akan mengantarkan kita ke berbagai situs (situs stasiun televisi seluruh dunia, situs surat kabar seluruh dunia, situs penerbit seluruh Indonesia, situs tutorial menulis dan dunia perbukuan, hingga situs perpustakaan digital di seluruh dunia dan masih banyak lagi link-link menarik lainnya) bisa kita jumpai dalam halaman situs maupun blog Forum Penulis Kota Malang ini. Dengan adanya situs dan blog resmi Forum Penulis Kota Malang, kita sebagai penulis bisa lebih terbuka wawasan dan juga peluangnya untuk bisa lebih mengembangkan diri dan juga berkreativitas secara produktif demi khasanah bacaan dan tulisan yang turut mewarnai negeri ini.
Forum Penulis Kota Malang (FPKM) juga meluncurkan publikasi digital dalam bentuk majalah digital (e-magazine) yang bisa didownload dari situs resminya di internet. Majalah digital Forum Penulis Kota Malang memakai format PDF, sebuah format yang cukup umum untuk sebuah majalah digital. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya yang bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggota forum ini juga diusahakan untuk senantiasa diliput dan ditulis dalam majalah digital ini. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Artikel-artikel yang dinilai cukup pantas akan dimuat dalam majalah digital ini.
Karena forum ini merupakan organisasi non profit kami tidak menyediakan imbalan dalam bentuk apapun untuk setiap artikel yang dimuat. Majalah digital Forum ini sifatnya hanya berfungsi untuk menjembatani segala bentuk pertukaran ilmu, pengalaman, pengetahuan, informasi terbaru dan juga ide serta saran dari para penulis yang ingin menekuni dunia tulis menulis sebagai karir profesi atau pun sekedar hobi. Majalah digital ini juga menerima sumbangan naskah karya para penulis yang ingin naskahnya dibedah dalam diskusi forum ini.
Anda bisa mengunjungi situs resmi dan blog Forum Penulis Kota Malang (FPKM) serta forum diskusi komunitas ini di internet yaitu di alamat berikut :
http://www.fpkm.co.cchttp://forumpenuliskotamalang.blogspot.com http://klipingfpkm.multiply.com dan
http://resensibukufpkm.multiply.com http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/ Berbagai informasi terkini dunia kepenulisan dapat Anda akses dengan mudah di situs ini. Kesempatan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai berbagai aspek dunia kepenulisan terbuka seluas-luasnya di forum diskusi komunitas penulis ini. Anda bisa bergabung dengan cara mendaftarkan alamat e-mail Anda di Yahoo Group untuk memperoleh fasilitas kemudahan berdiskusi secara online. Cukup ketik link url ini di browser komputer Anda saat Anda terhubung ke internet, dan nikmati kemudahan akses informasi dan tanya jawab dengan sesama anggota komunitas ini.
http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/join